Si Cantik <em>Coelogyne celebensis</em> Anggrek Karismatik Sulawesi

Klikhijau.com - Bunga anggrek khas ini selalu menawan hati kala bersua. Labellumnya tak hanya memikat lebah, juga memikat siapa saja yang memandangnya. Dua bulan terakhir ini saya menjumpainya selalu...

Si Cantik <em>Coelogyne celebensis</em> Anggrek Karismatik Sulawesi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Bunga anggrek khas ini selalu menawan hati kala bersua. Labellumnya tak hanya memikat lebah, juga memikat siapa saja yang memandangnya. Dua bulan terakhir ini saya menjumpainya selalu berbunga.

Pertengahan Oktober 2019 lalu berjumpa dengannya saat menjelajah hutan. Kali ini saya berjumpa dengannya di luar wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bertemu saat menjelajah pinggiran hutan sekunder di Desa Laiya, Camba, Maros. Meski misi kali itu bukanlah menyibak puspa, namun bersua dengan si cantik, Coelogyne celebensis menjadi kesan tersendiri.

Bunganya yang menyerupai tabung dengan labellum yang terbuka selalu mengundang. Terbayang seperti lalat raksasa yang sedang bertengger.

Saya tertarik oleh magnet bunga yang karismatik. Saya mendekatinya. Meski habitatnya nampak tak biasa kali ini. Bertengger di puncak batu besar yang menancap di tepi sungai.

Rumahnya yang tinggi kali ini membuat saya tak mampu menyapanya lebih dekat. Saya mendongak, menikmati lekukan bunganya dengan warna hijau berpadu krem kekuningan.

Saya arahkan lensa dengan zoom maksimal. Dengan sabar kemudian saya mengatur fokus dan meredam getaran. Akhirnya saya memperoleh beberpa gambar yang baik.

"Oleh-oleh yang menarik," gugam saya dalam hati. Saya selalu senang jika berjumpa dengan anggrek. Apalagi jika menjumpainya di alam, di lingkungan sebenarnya dia hidup. Anggrek seolah menjadi pemanis di antara barisan pepohonan di lebatnya hutan.

Sebarannya terbatas

Saya juga teringat saat dua tahun lalu saja berjumpa dengan anggrek yang serupa di hutan primer Karaenta, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kala itu ia bertengger manis di batang kayu lapuk. Juga sama – sedang berbunga saat berjumpa. Cukup menikmati lekuk bunga dan perangainya menjadi pemuas menjelajah rimba belantara.

Beberapa gambar keindahannya cukup menjadi buah tangan. Membiarkannya hidup di rumahnya sendiri adalah keniscayaan. Memindahkannya dari habitat aslinya boleh jadi awal dari malapetaka hidupnya.

Boleh jadi perilaku kita menjadi contoh buruk bagi yang lain. Terpancing juga menjadikan kolektor. Dan terus seperti itu. Hingga pada akhirnya menjadi semacam penyakit menular. Ikut-ikutan menjadi kolektor anggrek militan. Coba-coba mengoleksi yang pada akhirnya justru menyiksa tumbuhan alam. Bisa jadi berujung maut bagi sang bidadari puspa.

Tegakah kita serampangan memeliharanya, dengan keterampilan terbatas. Membuat musnahnya satu per satu keragaman hayati tanah air. Bukankah ia lebih menawan jika ia mekar di lingkungannya sendiri.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2