Selamat Hari Bumi, Semoga Bumi Baik-Baik Saja!

Klikhijau.com - Selamat hari bumi 2020. Momen penting ini diperingati setiap tanggal 22 April setiap tahunnya di seluruh dunia. Hal terpenting dari momen ini adalah memikirkan dan merenungkan kembali...

Selamat Hari Bumi, Semoga Bumi Baik-Baik Saja!
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Selamat hari bumi 2020. Momen penting ini diperingati setiap tanggal 22 April setiap tahunnya di seluruh dunia. Hal terpenting dari momen ini adalah memikirkan dan merenungkan kembali bagaimana bumi.

Apa kabar Bumi? Sepertinya “Bumi sedang tidak baik-baik saja”. Bumi saat ini dalam ancaman eksistensial besar bernama krisis ekologis yang menyebabkan berbagai bencana ekologis. Demikian ditulis di laman resmi WALHI beberapa hari lalu.

Pada Hari Bumi 2020, WALHI mengajak kita semua untuk CLBK (Cintai Lagi Bumi Kita). Pesan ini tentu sangat dalam, betapa “daya cinta” kita pada bumi tergerus dan kian mengalami erosi.

Berbagai kerusakan terjadi di depan mata, mulai dari kebakaran hutan setiap tahunnya, polusi udara, dan banyak lagi. Bencana ekologis paling nyata pun terus menghantui diantaranya banjir yang skala besar di banyak tempat setiap saat.

Bumi telah menunjukkan banyak kejutan pada manusia, sebuah pertanda betapa bumi benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari lalu, seorang warga Indonesia yang bermukim di Ghana Afrika terkejut dengan hujan es yang tetiba turun. Padahal, cuaca sedang panas terik sebelumnya. Ini satu fenomena tak biasa yang menjelaskan bahwa bumi memang semakin rentah.

Di Amerika Serikat, badai salju datang silih berganti menebar kerusakan di sejumlah negara bagian. Di tengah kondisi bumi yang rentah ini, kita pun dikejutkan oleh kedatangan wabah Covid-19 yang menyebabkan terbatasnya pergerakan manusia.

Apakah wabah ini di satu sisi adalah sebuah peringatan agar manusia di bumi melakukan jedah sementara waktu? Bisa jadi, iya. Sejumlah ulasan mencatat adanya fakta menarik selama pandemi yakni bumi mengalami perubahan dan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Lapisan ozon menebal dan polusi udara berkurang secara global.

Sejumlah pakar kesehatan masyarakat bahkan menyebut Covid-19 sebagai penyakit zoonosis. Suatu penyakit yang kumannya awalnya berasal dari hewan liar.

Hal ini disebabkan oleh pembukaan hutan yang makin besar beberapa abad terakhir. Kuman-kuman zoonosis makin banyak bermutasi dan akhirnya bisa melompati pembatas spesies, sebelum melompat ke manusia. Seperti pernyataan klasik “kerusakan di bumi adalah ulah manusia sendiri”.

Apa pun itu, dalam situasi bumi yang sedang tidak baik-baik saja ini. Kami mengajak kita semua untuk berbenah. Membangun kembali kepedulian dan “daya cinta” pada bumi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2