Cerita Miris 2019, Jutaan Warga Sulsel Terdampak Bencana Ekologis

Klikhijau.com – Tahun baru 2020 tiba melanjutkan tahun 2019. Kedatangannya hanyalah melanjutkan perjalanan tahun-tahun sebelumnya. Yang pada akhirnya juga akan berakhir dan berlanjut ke tahun berikutn...

Cerita Miris 2019, Jutaan Warga Sulsel Terdampak Bencana Ekologis
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Untuk bencana angin puting beliung terjadi di Kabupaten Takalar, sebanyak 85 jiwa menjadi korban dan 26 rumah rusak. Bencana serupa di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), terdapat 95 jiwa dan 20 unit rumah rusak. Di Kabupaten Barru ada 148 jiwa dan 46 unit rumah rusak.

Sementara di Kabupaten Toraja korban sebanyak 122 jiwa dan 14 unit rumah warga rusak. Dan Kabupaten Sidrap terdapat 53 jiwa dengan 18 unit rumah rusak. Kabupaten Enrekang, ada 91 rumah warga yang rusak dan empat orang yang mengalami luka-luka akibat bencana angin puting beliung.

Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) juga terjadi di hutan wilayah Kabupaten Gowa. Sebanyak 200 jiwa yang mengungsi dan 107 unit rumah yang rusak dengan luasan hutan dan lahan terbakar seluas 75 hektare. Sedangkan di Kabupaten Luwu bencana Karhutla seluas 27 hektare dan Luwu Timur seIuas 50 hektare.

Dampak bencana kekeringan juga terjadi di beberapa daerah, seperti Kota Makassar terdampak krisis air bersih sebanyak 564.612 ribu jiwa. Disusul Kabupaten Jeneponto ada 361.793 jiwa yang terdampak kekeringan dan 15.591 ribu hektare sawah gagal panen.

Di Kabupaten Bulukumba, ada 1.200 petani terdampak dengan luas sawah dan kebun 2.294 hektare gagal panen akibat kekeringan. Begitupula di Kabupaten Maros, ada 7.100 jiwa yang terdampak kekeringan dan 300 hektare sawah mengalami gagal panen.

Karena perusakan lingkungan

Bencana ekologis lainnya yakni dampak gelombang pasang dan abrasi masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Selayar. Tercatat 109 jiwa dan tujuh rumah rusak berat serta satu orang meninggal dunia.

Tidak hanya di Selayar, bencana itu juga terjadi di Kabupaten Takalar. Ada 1.975 jiwa masyarakat pesisir terdampak, serta 34 unit rumah warga yang berada di pesisir amblas terkena abrasi.

Dari enam jenis bencana ekologis Sulsel, yang paling sering dirasakan rakyat adalah angin puting beliung sebanyak 40 kali atau setara dengan 46,5 persen dari 80 kejadian bencana ekologi sepanjang 2019.

"Disusul dengan banjir sebesar 29,1 persen, tanah longsor 9,3 persen kebakaran hutan 7,0 persen, kekeringan 5,8 persen dan terakhir abrasi dan gelombang air laut sebesar 2,3 persen ," ujar Al Amin.

Menurut dia, bencana ekologis ini disebabkan eksploitasi sumber daya alam dan perusakan lingkungan yang berlebihan dalam meraup keuntungan tanpa memikirkan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan hidup rakyat.

Rentetan bencana ekologis di Sulsel dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sepanjang sejarah di Sulsel, bencana ekologis yang paling parah pada bulan Januari 2019 yang menimbulkan banyak kerugian baik secara materil maupun non materil.

"Kerugian secara meteril dari bencana ekologis ini kebanyakan di tanggung masyarakat sendiri dengan nilai kerugian sebesar Rp2,3 trillun atau setara dengan 25 persen anggaran APBD Sulsel, dan anggaran untuk pendidikan," beber Amin seperti ditulis M Darwin Fatir di media daring Antara.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2