Saat Padi Lokal Punah, Ritual dan Cara Memuliakan Alam Ikut Lenyap

Klikhijau.com - Bagi sebagian besar masyarakat modern, sebutir padi mungkin hanya dipandang sebatas komoditas pangan, pengisi piring di meja makan, atau angka-angka dalam perputaran ekonomi penopang...

Saat Padi Lokal Punah, Ritual dan Cara Memuliakan Alam Ikut Lenyap
Bacakan Artikel

Praktik-praktik otentik inilah yang dikategorikan oleh Cindy sebagai bagian dari warisan biokultural yang hidup dan bernyawa di dalam rahim masyarakat adat, sebuah konsep yang tidak hanya menghitung keanekaragaman hayati secara kuantitatif, tetapi juga merayakan jalinan relasi, bahasa, spiritualitas, serta lanskap geografis tempat masyarakat itu bernaung.

Sayangnya, warisan biokultural ini kini berada dalam posisi yang sangat rentan untuk punah dari bumi Nusantara akibat desakan modernisasi dan cara pandang yang eksploitatif.

Cindy menekankan sebuah alarm peringatan bahwa ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan spiritual dan emosional dengan alam, maka alam lingkungan akan dengan sangat mudah didegradasi posisinya menjadi sekadar objek mati yang pasif.

Saat alam hanya dilihat sebagai penyedia pasokan tanpa batas untuk memenuhi syahwat kebutuhan manusia, maka tindakan eksploitasi besar-besaran dan perusakan ekosistem akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan legal demi keuntungan sesaat.

Oleh karena itu, WGII menilai warisan biokultural ini jauh lebih rapuh dan lebih rentan hilang dibandingkan dengan keanekaragaman hayati itu sendiri, sebab ancaman nyata hari ini bukan lagi sekadar punahnya satu spesies satwa atau menciutnya luasan hutan, melainkan putusnya seluruh jaring-jaring relasi yang mengikat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut menjadi satu kesatuan kosmos yang utuh.

Momentum untuk menggugah kesadaran global ini kini mengemuka menjelang pelaksanaan Konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati atau CBD COP17 yang dijadwalkan berlangsung di Yerevan, Armenia, pada Oktober 2026 mendatang. WGII mendesak agar agenda perlindungan terhadap wilayah kelola masyarakat adat dan komunitas lokal tidak lagi dilihat secara sempit, melainkan harus diletakkan dalam spektrum ekosistem budaya yang jauh lebih luas.

Berbekal data otentik yang dihimpun oleh WGII, saat ini terdapat lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas) yang telah terdokumentasi dengan baik di Indonesia, membuktikan secara nyata bahwa denyut nadi pengetahuan dalam menjaga rahim alam masih sangat hidup dan dipraktikkan secara konsisten di berbagai pelosok negeri.

Perlindungan wilayah-wilayah ini pada akhirnya bukan lagi sekadar urusan memagari kawasan hutan atau menghitung jumlah spesies yang tersisa, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menyelamatkan pengetahuan kuno, keunikan bahasa, kesakralan ritual, dan praktik hidup yang tumbuh mekar bersama alam.

Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah perkara teknis menyelamatkan tegakan pohon di hutan, melainkan bagaimana menjaga api pengetahuan yang hidup bersama ekosistem tersebut, karena kita harus sadar sepenuhnya bahwa ketika satu jenis padi lokal hilang, yang sirna dari muka bumi bukan sekadar sebatang tanaman, melainkan runtuhnya sebuah ritual, hilangnya ingatan sejarah, dan bergesernya cara manusia memandang alam semesta.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2