Saat Padi Lokal Punah, Ritual dan Cara Memuliakan Alam Ikut Lenyap

Klikhijau.com - Bagi sebagian besar masyarakat modern, sebutir padi mungkin hanya dipandang sebatas komoditas pangan, pengisi piring di meja makan, atau angka-angka dalam perputaran ekonomi penopang...

Saat Padi Lokal Punah, Ritual dan Cara Memuliakan Alam Ikut Lenyap
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Bagi sebagian besar masyarakat modern, sebutir padi mungkin hanya dipandang sebatas komoditas pangan, pengisi piring di meja makan, atau angka-angka dalam perputaran ekonomi penopang penghasilan. Namun, jika kita melangkah lebih dalam ke berbagai wilayah komunitas adat di penjuru Nusantara, padi memiliki kedudukan yang jauh melampaui urusan perut.

Di sana, padi adalah napas kebudayaan yang melekat erat pada penamaan, bahasa, ritual spiritual, benteng pengetahuan tradisional, serta kompas moral masyarakat dalam menjaga keharmonisan dengan alam raya.

Keragaman ini ditegaskan oleh Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), Cindy Julianty, yang mengungkapkan bahwa komunitas adat di Indonesia merawat varietas padi lokal secara spesifik, di mana setiap jenisnya memiliki nama, fungsi, dan posisi sakral tersendiri dalam siklus kehidupan mereka.

Padi-padi ini tumbuh bukan sekadar untuk dipanen, melainkan memiliki pembagian peran yang ketat, ada yang dikhususkan untuk konsumsi harian, ada yang wajib hadir dalam ritual adat tertentu, dan ada pula varietas yang posisinya mutlak tidak dapat digantikan karena mengemban fungsi spiritual serta ekologis yang mendalam bagi komunitas tersebut.

Melalui kacamata ekologis yang lebih luas, Cindy mengingatkan bahwa hilangnya satu varietas padi lokal tidak boleh disederhanakan sebagai kepunahan satu jenis tanaman pangan belaka. Di balik sebutir benih lokal yang hilang, sesungguhnya ada patahan besar dalam sistem pengetahuan tradisional yang selama ini menghubungkan manusia, kesuburan tanah, aliran air, pergeseran musim, penghormatan kepada leluhur, hingga tata cara hidup berdampingan dengan alam.

Ketika padi lokal ini perlahan lenyap dari ladang-ladang adat, rentetan ritual yang melingkupinya pun otomatis ikut terkikis dan menghilang dari memori kolektif. Ironisnya, saat ritual-ritual tersebut tak lagi dipraktikkan, cara pandang masyarakat terhadap sumber daya alam di sekitarnya dipastikan akan ikut bergeser secara drastis.

Padi yang tadinya dianggap sakral dan dihormati kini menyusut maknanya menjadi sekadar barang dagangan yang dinilai dengan uang, dan pada titik krusial inilah, ikatan batin serta hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta perlahan-lahan mulai melemah dan menuju ambang kehancuran.

Ketahanan kultural ini sebenarnya telah teruji melintasi waktu di sejumlah komunitas adat, seperti yang dapat kita saksikan pada masyarakat Kasepuhan dan Baduy yang masih setia merawat warisan leluhur mereka.

Bagi mereka, keberadaan lumbung padi tradisional bukan sekadar bangunan kayu tempat menyimpan cadangan pangan demi bertahan hidup, melainkan sebuah institusi adat yang berfungsi sebagai sistem perlindungan benih, pusat pelestarian pengetahuan, dan jaminan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

Masyarakat adat ini memiliki kearifan lokal yang genius dalam memastikan benih-benih padi mereka tetap prima dan bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, mulai dari teknik penyimpanan tradisional yang rapi hingga pemanfaatan jenis tumbuhan hutan tertentu sebagai bahan pengawet alami di dalam lumbung agar terhindar dari hama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow