Rumah Pohon Alea
Bira tengah diguyur hujan. Tidak deras namun cukup membuat kuyup. Di perjalanan pulang dari pantai, sepasang kekasih yang berboncengan memarkir motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Awalnya mer...
Bira tengah diguyur hujan. Tidak deras namun cukup membuat kuyup. Di perjalanan pulang dari pantai, sepasang kekasih yang berboncengan memarkir motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Awalnya mereka mampir di teras warung makan.
Namun, tidak tahan dengan udara dingin dan suara ritmis hujan di luar, mereka masuk ke warung dan memesan indomie telur dan teh panas.
Aroma pantai dan suara ombak meriak di sisi pantai. Pengunjung bisa melihatnya dari atas. Selain pantai juga dapat melihat cottage, perahu dan pohon-pohon kelapa yang berjejer.
Sementara mereka berdua makan, mereka menyaksikan pemandangan di luar sana sebelum berbicara satu sama lain.
[irp]
“Setelah wisuda sarjana, apa yang akan kamu lakukan, Rif?”, tanya Alea.
“Saya sementara merintis perpustakaan alam dan saya ingin melanjutkannya, Alea. Saya ingin membagi pengalaman dan ilmu di desa saya. Membangun sebuah perpustakaan, rumah pohon dan taman-taman kecil di sebuah bukit di desa saya.”
“Tapi tidak adakah mimpimu yang jauh lebih real, Rif? Misal menjadi karyawan perusahaan swasta atau apa saja yang bisa menghasilkan sesuatu.”
“Untuk sementara tidak Alea. Saya menyukainya.”
“Bagaiamana denganmu Alea?”
Suasana menjadi hening sejenak.
Dua orang anak kecil berjalan mengitari meja Alea dan Arif. Mereka bermain kejar-kejaran di antara lorong-lorong meja. Salah satunya gadis kecil, ia terjatuh di dekat Alea. Ia berteriak dan menangis memanggil mamanya. Alea meraihnya dan membantunya untuk bangun gadis kecil itu.
“Lain kali, hati-hati ya dek.”
Gadis kecil itu mengangguk sambil menyeka air matanya.
“Mungkin setelah ini, saya ingin melanjutkan kuliah S2 di Jawa,”
“Kenapa mesti di Jawa?”
“Ayah menginginkan saya untuk lanjut di sana, ia punya kenalan dan keluarga ayah yang bisa membantu saya selama berada di sana.”
[irp]
Separuh napas seperti sesak di antara mereka. Arif mencoba menarik senyum tipis.
“Kamu orang yang teratur, teliti dan tidak mudah putus asa Alea. Namun, begitu kau tetap memiliki hati yang lembut.”
“Dulu kamu memperagakan cinta dengan menolakku berkali-kali Alea dengan cara yang halus. Kelabat kenangan lima tahun lalu seperti hadir di antara kita. Saya tersenyum membayangkannya kembali. Sungguh saya tidak akan melupakannya. Kamu mengerti maksud saya kan Alea?”
“Saya seperti tidak menemukan jawaban yang tepat untuk itu Arif”
“Sudah saya duga Alea. Selain hatimu yang halus dan selembut sutra. Caramu untuk mengatakan sesuatu juga halus dan terukur. Aku harap itu bukan kata perpisahan,”
“Namun sebelum semua itu terjadi, saya ingin mengajakmu ke rumah pohon yang telah saya rintis sejak tahun lalu Alea. Sudah lama saya bermukim di kota, mungkin sudah saatnya juga saya menetap di desa kembali. Melihat camar-camar yang terbang melintasi awan, kabut-kabut yang mengelilingi desa saya, dan pohon-pohon yang merindanginya,”
“Liburan ini akan segera berakhir. Kamu hanya membawa dua lembar pakaian ganti dan celana dalam. Saya ingin kamu mampir di rumah saya dulu lalu menuju rumah pohon saya, Alea.”
[irp]