Putri Malu Besar, Banyak Manfaat tapi Menyimpan Ancaman Mengerikan

Klikhijau.com - Putri malu besar itu tumbuh di depan rumah Asar. Di atas pasir. Pasir yang didatangkan dari luar desa. Tumbuhan liar bernama ilmiah Mimosa pigra L itu ikut terangkut ke dalam pasir. Pa...

Putri Malu Besar, Banyak Manfaat tapi Menyimpan Ancaman Mengerikan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Putri malu besar bukanlah tumbuhan asli Indonesia, ia merupakan tanaman asli Amerika Tropis. Bagaimana bisa sampai ke Indonesia. Penyebarannya bisa saja seperti ia datang ke Desa Kindang, menumpang pada media lain. Tidak dibawa langsung oleh manusia.

Iya, tumbuhan bisa datang dari jauh. Datang dengan menumpang, bisa di pasir, tanah, batu, ban mobil. Apa saja yang memungkinkan membawanya ke tempat baru, yang jauh dari habitatnya.

Ciri putri malu besar

Tidak sulit mengenali tumbuhan ini. ia  berupa perdu, bercabang tinggi hingga setinggi 6 m dan membentuk tegakan monospesifik padat dengan kepadatan rata-rata satu tanaman per m 2 di tepi sungai, dataran banjir, hutan rawa, pesisir, kanal, ladang pertanian, dan pinggir jalan.

Tumbuhan ini memiliki daun bergantian dan bipinnate (panjang sekitar 25 cm) dengan 10–16 pasang pinnae yang berlawanan (panjang sekitar 5 cm).

Pinnae berisi anak daun lanset sempit, dan anak daun saling berdekatan di malam hari dan ketika tersentuh dan terluka. Batangnya mengandung duri yang tersebar secara acak (panjang sekitar 1 cm). Penampilan daun dan bunganya mirip dengan putri malu, hanya saja ukurannya lebih jumbo.

Kaya manfaat

Meski membawa ancaman karena bersifat invasif. Namun, tumbuhan ini juga membawa manfaat yang besar bagi manusia.

Tumbuhan ini telah diperkenalkan ke beberapa negara  sebagai tanaman hias, pupuk hijau, tanaman penutup dan kontaminan benih.  Spesies ini pun telah menyebar dan dinaturalisasi di banyak negara terutama di Australia, Afrika Timur dan Selatan dan Asia Selatan

Bagi masyarakat Afrika, secara tradisional telah menggunakan tanaman ini untuk membantu pengobatan beberapa jenis penyakit, misalnya  sebagai tonik dan pengobatan untuk diare, gonore dan keracunan darah.

Sejak tahun 1960-an masyarakat Thailand telah menggunakan daun tanaman ini sebagai pupuk, fungsinya dapat menjadi  tanaman penutup.

Daun tumbuhan ini juga mengandung mimosine. Daunnya itu dapat digunakan sebagai pencahar dan tonik.

Rebusan batang dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk mengobati sariawan pada bayi. Selain itu, dapat pula meredakan ngompol pada anak-anak.

Sementara bubuk daunnya dapat diseduh dan diminum untuk meredakan pembengkakan. Daunnya dimaserasi di tangan lalu dioleskan ke mata bayi atau anak-anak untuk menidurkan mereka.

Sedangkan akarnya  dapat dimanfaatkan sebagai afrodisiak atau untuk meningkatkan kejantanan bagi sebagian orang serta abu akarnya ditaburkan di atas bercak kusta di kulit.

Daun yang masih muda dapat digunakan sebagai anti muntah atau emetik. Manfaat lainnya adalah dapat mengatasi ekspektoran atau mengencerkan dahak, sehingga memudahkan pengeluaran dahak dari tenggorokan atau saluran pernapasan

Tidak sebatas itu, tumbuhan yang memiliki duri pada batang dan tangkainya ini, juga   dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan erosi, khususnya pada tanah-tanah yang curam atau tebing.

Meski memiliki ragam manfaat, saya tetap berharap, putri malu besar yang tumbuh di depan rumah Asar—di atas pasir itu tidak menyebar hingga ke kebun warga. Cukuplah rerumputan atau gulma asli saja yang tumbuh. Itupun sudah sangat merepotkan.

Dari berbagai sumber

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2