Voice of Mama-Mama: Cerita Masyarakat Adat Namblong Mempertahankan Identitas

Klikhijau.com - “Hanya hutan yang bisa menolong kami.” Sepenggal kalimat dari Yon, warga dari tanah Namblong, Kabupaten Jayapura yang datang untuk berbagi cerita bersama Vebbry, Ruth, dan Stebby dalam...

Voice of Mama-Mama: Cerita Masyarakat Adat Namblong Mempertahankan Identitas
Bacakan Artikel
Muhammad Riszky

Guru BK pada salah satu SMK di Makassar yang juga aktif menyuarakan isu lingkungan dengan bergabung di Sekretariat Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia

Muhammad Riszky

Artikel terbaru dari Muhammad Riszky (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Padahal, bagi masyarakat adat di Namblong memegang teguh prinsip menjaga hutan itu sama dengan merawat diri. Di tengah kondisi hutan yang terus tergerus oleh pembangunan yang merugikan, mereka tetap memperjuangkan tanah ulayatnya, mempertahankan apa yang masih tersisa.

Atap Sagu Diganti Seng

Diskusi yang penuh emosi itu lalu dilanjutkan oleh Ruth. Ia menyambung cerita dari Vebbry tentang hilang hutan dan identitas masyarakat adat. Pembangunan yang hadir di wilayahnya datang dengan wajah yang kaku. Atap sagu yang menjadi ciri khas mereka diganti oleh seng yang panas.

“Ketika pembangunan datang, diganti semua,” jelas Ruth sambil mengeluarkan air mata.

Ia melanjutkan jika standar kecantikan pun juga perlahan mulai tergeser. Rambut keriting yang menjadi ciri khas mereka dipaksa mengikuti standar budaya lain, rambut lurus. Rambut merupakan mahkota alami dan menjadi ciri khas mereka pun mendapatkan tantangan dan narasi baru akan kecantikan.

Mereka yang sadar dan tidak ingin ikut dalam arus standar kecantikan itu secara kolektif mendirikan organisasi perempuan adat. Sejak tahun 2019 mereka mengorganisir para perempuan dan mendirikan sekolah agar pada anak-anak Namblong kembali belajar dan menegakkan identitas mereka.

“Kami mendirikan sekolah agar mengenal jati diri kami dan belajar bahasa ibu,” ujarnya.

Mereka kembali mengidentifikasi sumber-sumber identitas yang perlahan mulai hilang. Noken, yang merupakan tas tradisional khas papua perlahan mulai hilang seiring dengan penebangan pohon-pohon yang seratnya menjadi bahan utama, Selain itu obat-obatan tradisional kian sulit untuk didapatkan, mereka harus jauh masuk ke dalam hutan untuk mendapatkan.

Identifikasi lainnya adalah kemampuan berkebun para generasi muda yang perlahan hilang. Padahal bagi mereka berkebun adalah nyawa yang harus dipertahankan.

“Dengan berkebun, kami bisa makan. Dengan berkebun kami bisa hidup,” terang Ruth yang diikuti oleh riuh tepuk tangan para penonton yang memadati ruangan.

Yon yang juga warga asli dari Namblong menekankan bahwa semangat perlawanan mereka tidak pernah padam. Setiap hari mereka memperdalam pengetahuan dengan masuk ke hutan, mengamati berbagai flora dan fauna.

Mereka menjadi saksi atas apa yang terjadi di hutan, menjaga hutan itu agar tetap lestari. Burung-burung Cendrawasih tetap menari dan menyanyi di hutan mereka. Hal itu membuat mereka, pada generasi muda dari Namblong terus memperjuangkan hak-hak adat yang terancam kehilangan eksistensinya.

“Kami punya kemampuan, kami punya pengetahuan. Kami bisa beradaptasi,” pungkas Yon.

Di akhir sesi, para narasumber menyimpulkan bahwa suara dari masyarakat adat harus terus diamplifikasi melalui berbagai bentuk. Setiap dari kita punya hak untuk bersuara dan meneruskan suara dari mereka.

Ketika suara itu memudar, maka tunggulah bencana akan semakin cepat datang. Bisa jadi hari ini bukan kita, tapi ke depan, siapa yang tahu?

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2