Tekanan Kota Tak Hentikan Perjuangan Masyarakat Pesisir Lantebung atas Ruang Mangrove dan Hak Kelola

Tekanan Kota Tak Hentikan Perjuangan Masyarakat Pesisir Lantebung atas Ruang Mangrove dan Hak Kelola
Seri Diskusi Hutan Merdeka VII di Pesisir Mangrove Lantebung Kota Makassar. - (Foto: ist)
Bacakan Artikel

Bagi generasi muda Lantebung, perubahan iklim bukan isu jauh. Dampaknya sudah terasa di rumah sendiri, banjir rob yang semakin sering, suhu yang semakin panas, dan hasil tangkapan nelayan yang mulai berkurang. Dengan menanam mangrove, mereka memilih menjadi bagian dari solusi.

Direktur YKL Indonesia Nirwan Dessibali menekankan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan masyarakat pesisir tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi tetap menjadi subjek yang punya hak menentukan masa depan wilayahnya sendiri. 

“Hari ini tekanan terhadap wilayah pesisir semakin besar, baik karena pembangunan, perubahan iklim, maupun kebijakan yang sering kali berubah. Di sisi lain, masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan praktik pengelolaan yang berlangsung turun-temurun, tetapi belum selalu diakui atau masuk dalam proses pengambilan keputusan,” katanya.

Menurut Nirwan, ke depan perlu memperkuat posisi masyarakat dari tingkat lokal. Bukan hanya melalui advokasi kebijakan, tetapi juga dengan memperkuat kelembagaan masyarakat, mendokumentasikan wilayah dan praktik kelola mereka, membangun data, serta membuka ruang dialog yang lebih setara dengan pemerintah dan pihak lainnya. 

“Masyarakat harus dilihat sebagai pengelola dan pemilik pengetahuan, bukan sekadar penerima manfaat. Kalau hak kelola mereka semakin kuat dan diakui, maka mereka juga akan punya posisi tawar yang lebih baik untuk menjaga ekosistem sekaligus mempertahankan sumber penghidupannya,” ujarnya.

Khusus di Kota Makassar, tantangan terbesar adalah mempertahankan ruang mangrove di tengah tekanan perkembangan kota. Mangrove sering berada di kawasan yang dianggap strategis untuk pembangunan, sehingga kepentingan ekologis, ekonomi, dan pembangunan bertemu di ruang yang sama. 

“Menurut saya, pendekatannya tidak bisa hanya dengan menanam mangrove. Kita harus bicara tentang siapa yang mengelola, siapa yang menjaga, bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat, dan bagaimana ruang mangrove dilindungi dalam perencanaan kota,” tegas Nirwan.

Pengalaman di Lantebung, kata dia, menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kawasan, upaya rehabilitasi bisa lebih berkelanjutan. Yang penting bukan hanya menambah luasan mangrove, tetapi memastikan ada tata kelola yang jelas, keterlibatan masyarakat, dan perlindungan ruang mangrove dalam pembangunan Kota Makassar.

Kegiatan yang diikuti dari puluhan komunitas dan ratusan peserta ini menjadi ruang membangun kebersamaan. Camp dan games menciptakan suasana akrab. Panggung Merdeka memberi kesempatan anak muda mengekspresikan ide dan kepedulian terhadap lingkungan. Aksi bersih mengajak semua orang tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga kebersihan kawasan yang sudah ada.

Di tengah dunia yang penuh janji tentang lingkungan, kegiatan ini memilih jalan sederhana, datang, tanam, rawat. Akar mangrove yang kuat menahan ombak. Daun yang rimbun menyejukkan iklim. Tangan-tangan muda yang menanam hari ini ikut menentukan apakah napas bumi masih tersedia untuk esok hari.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2