Staf Khusus Menteri LHK Menyapa Warga Mallawa

Klikhijau.com - Tudang Sipulung berarti duduk bersama. Istilah ini berasal dari bahasa Bugis, yang berarti "duduk bersama". Duduk bersama untuk menyelesaikan suatu pokok permasalahan. Dengan begitu ju...

Staf Khusus Menteri LHK Menyapa Warga Mallawa
Bacakan Artikel

Kecamatan Mallawa memang memiliki tanah yang subur. Letaknya pun cukup jenjang dari permukaan laut. Hal ini membuat Mallawa menjadi surga komoditi pertanian unggulan. Jahe, merica, cengkeh, kopi, hingga kacang tanah melimpah di salah satu kecamatan di Maros, Sulawesi Selatan ini.

Pertama-tama, Hanni menyambangi Desa Samaenre, Mallawa, Maros. Mengunjungi Kelompok Tani Hutan Samaenre Bersatu (KTH Samber). KTH Samber adalah kelompok warga yang berfokus budidaya jamur. Hanni menyapa petani jamur tiram. Memberi semangat untuk terus berkarya.

Hanni juga berencana mengunjungi Desa Bentenge, Mallawa, Maros. Desa penghasil produk “Kopi Bentenge”. Namun sayang, waktu yang sempit tak memungkinkan.

[caption id="attachment_21710" align="alignnone" width="600"]tudang sipulung Staf Khusus Menteri LHK hadiri Tudang Sipulung Resor Mallawa. Foto: Taufiq Ismail[/caption]

Tak hanya itu, Hanni juga menikmati dinginnya malam di Samaenre. Memilih menginap di rumah warga. Personil Resor Mallawa, telah menyiapkan salah satu rumah warga. Kesederhanaan rumah penduduk menjadi daya tarik. Mengabaikan mewahnya hotel berbintang.

Masa-masa wabah yang masih merebak membuat semua tak berjalan mudah. Apalagi warga Mallawa kompak berlakukan penguncian lokal yang ketat. Berkat koordinasi yang intensif personil Mallawa, kemudian menemui jalan. Tentunya tetap harus menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

“Saya telah berkoordinasi dengan pemerintah Desa Samaenre dan Barugae, termasuk Camat Mallawa. Semoga kunjungan Bu Hanni berjalan mulus,” terang Aswadi. Aswadi begitu sibuk lakukan persiapan kedatangan sang tamu. Beruntung anggota resornya turut mendukungnya.

Penandatanganan Kesepakatan Konservasi

Hanni juga berkesempatan mengikuti “Tudang Sipulung” di Desa Barugae.

Akhir-akhir ini Barugae cukup dikenal. Salah satunya berkat Kelompok Wanita Tani Hutan (KWTH) Semangat Baruga. Mengapa? Karena kepiawaian ibu-ibu desa yang mampu meracik jahe menjadi produk siap seduh. Menghasilkan jahe instan yang cukup digandrungi peminatnya.

Apalagi khasiat jahe yang mampu mendongkrak imun tubuh. Membuat produk ini laku di pasaran. Apalagi di zaman pagebluk seperti ini. Jahe instan menjadi salah satu pilihan membentengi diri. Menjaga kebugaran tubuh. Menjadikan tubuh tetap fit.

Barugae begitu asri. Berada di kaki bukit. Hamparan sawah warga berpadu hutan berbukit menyapa kala memasuki desa. Tak ada signal juga menjadi hal menarik. Membuat interaksi dengan warga begitu terasa.

Tak heran jika warga hendak mengontak keluarga di luar desa, harus keluar mencari signal. Begitulah kondisi beberapa desa di Mallawa.

Pada gelaran ini Resor Mallawa melakukan penanda tanganan naskah kesepahaman dengan mitra kerjanya. Naskah kesepahaman dalam perlindungan dan pengamanan hutan. Kesepahaman antara Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan Polsek Mallawa dan Koramil Mallawa.

Sepakat untuk menjaga dan melindungi hutan di wilayah Resor Mallawa. Tak hanya itu Resor Mallawa juga berkomitmen untuk merangkul warga di wilayah kerjanya. Terus membimbing warga agar mampu hasilkan produk-produk unggulan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga mengapresiasi kinerja Kepala Resor Mallawa dan anggotanya. Salut dengan inovasi manfaatkan potensi desa setempat. Gerakkan ekonomi masyarakat melalui produk yang selalu laris di pasaran. Dengan begitu ekonomi warga pinggir hutan ini pun turut terbantu.

KWTH juga sedang ikuti lomba desa konservasi dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional 2021. Sebuah ajang penghargaan kepada insan berpretasi di bidang konservasi alam. Ajang tahunan yang digelar Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian LHK.

"Mohon doanya, moga Semangat Baruga bisa juara. Beberapa minggu lalu tim penilai sudah memferifikasi langsung kelompok tani wanita kita," terang Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Hanni memuji produk karya warga Mallawa. "karya kelompok tani di Mallawa adalah contoh konkrit bangkitnya ekonomi desa. Memanfaatkan potensi desa hasilkan produk unggulan. Produk yang tercipta dari rempah-rempah asli tanah kita. Produk yang tanpa pengawet. Sehingga juga aman bagi kesehatan," pungkas Hanni.

Lebih jauh Hanni juga mengutarakan bahwa kerja hasil teman-teman di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah sebagai wujud Nawacita Presiden RI. Wujudkan Indonesia Maju melalui kerja keras di tingkat tapak.

Bersama rombongan juga hadir Direktur Inhutani. "Saya berharap Inhutani juga bisa menjadi contoh inovasi Semangat Baruga. Bisa menerapkan di wilayah kerja. Memberdayakan masyarakat di sekitar hutan," tambah Hanni.

Hanni juga kunjungi Desa Mattampawalie, Lampariaja, Bone. Sebuah desa asri yang sedang berbenah. Mengembangkan desa wisata. Memanfaatkan potensi hutan pinus sebagai daya tarik utama.

Wisata Pinus Bulu Tanah adalah nama destinasinya. Kelompok warga menyulap hutan pinus sebagai wahana melepas penat. Menatanya sedemikian rupa. Hingga kemdian menjadi buah bibir.

Lokasinya berada di ketinggian membuat udaranya sejuk tak terkira. Tak hanya itu sejumlah fasilitas melekatinya. Memudahkan warga menikmati keindahan alam.

Menata jalan menuju hutan pinus, meluaskan lahan parkir, sarana ibadah pun tersedia. Untuk menambah daya tarik, pengelola menyediakan spot foto yang instagramable. Karenanya tak heran menjadi destinasi wisata baru favorit warga sekitar Bone.

Hanni begitu menikmati keasrian alam Bulu Tanah. Bercengkama bersama rombongan. Tak heran sesekali tawa lepasnya berderai.

Dari Bulu Tanah, Hanni kemudian berpamit. Berharap warga desa yang menetap sekitar hutan untuk terus berbuat. Bangkit dari keterpurukan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2