Meredam Emisi Transportasi dengan Makanan Lokal

Klikhijau.com – Terkadang kita bangga memamerkan makanan atau barang impor. Karena itu menunjukkan status sosial di masyarakat. Makanan atau barang lokal kerap diabaikan. Status sosial memang berha...

Meredam Emisi Transportasi dengan Makanan Lokal
Bacakan Artikel

“Emisi transportasi makanan menambah hampir setengah dari  emisi langsung dari kendaraan jalan,” ungkapnya.

Sedangkan rekan penulis, Profesor David Raubenheimer mengatakan bahwa sebelum penelitian tersebut, sebagian besar perhatian dalam penelitian pangan berkelanjutan adalah pada emisi tinggi yang terkait dengan makanan yang berasal dari hewan, dibandingkan dengan tanaman.

“Studi kami menunjukkan bahwa, selain beralih ke pola makan nabati, makan secara lokal sangat ideal, terutama di negara-negara makmur,” kata para peneliti.

Mereka menganalisis emisi dari pengangkutan berbagai barang di 37 sektor ekonomi yang berbeda, seperti sayuran dan buah-buahan, peternakan, batu bara, dan barang-barang manufaktur.

Negara kaya berkontribusi besar

Para peneliti mempertimbangkan emisi transportasi yang dihasilkan dari transportasi domestik dan internasional, baik di dalam negara produsen maupun di dalam negara tujuan ekspor barang. Mereka memperhitungkan jarak yang ditempuh dan massa barang yang diangkut.

Temuannya mengungkapkan, negara-negara kaya berkontribusi secara tidak proporsional terhadap emisi yang dihasilkan dari pengangkutan bahan makanan.

Secara keseluruhan, Amerika Serikat, India, dan Rusia adalah penghasil emisi transportasi makanan teratas. Tetapi negara-negara berpenghasilan tinggi pada umumnya berkontribusi lebih banyak terhadap emisi ini.

Negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Jepang merupakan 12,5 persen dari populasi dunia. Namun menghasilkan hampir setengah (46 persen) dari emisi transportasi makanan.

Australia ditemukan sebagai pengekspor emisi transportasi makanan terbesar kedua, mengingat luas dan volume produksi utamanya. Emisi transportasi juga bergantung pada jenis makanan. Dengan buah dan sayuran, misalnya, transportasi menghasilkan hampir dua kali lipat jumlah emisi dibandingkan produksi.

Hal ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa mereka memerlukan transportasi yang dikontrol suhu untuk memastikan mereka tiba di tempat tujuan dalam kondisi segar. Transportasi buah dan sayuran menyumbang lebih dari sepertiga dari semua emisi transportasi makanan.

Agar emisi transportasi bisa diredam, maka penulis menyarankan, konsumen perlu memilih makanan produksi lokal yang sedang musim, daripada makanan di luar musim yang perlu diangkut dari jarak jauh.

Mengubah sikap konsumen

Meskipun begitu, penulis mengakui skenario ini tidak realistis karena banyak daerah tidak dapat mandiri dalam pasokan makanan. Mereka mengatakan ada hal-hal yang dapat dilakukan negara-negara kaya untuk mengurangi emisi transportasi makanan mereka.

Ini termasuk menggunakan kendaraan energi yang lebih bersih dan mendorong bisnis untuk menggunakan metode produksi dan distribusi yang mengurangi emisi.

Profesor Manfred Lenzen yang juga rekan penulis mengatakan, ada potensi yang cukup besar untuk pertanian pinggiran kota untuk memberi makan penduduk perkotaan.

“Baik investor dan pemerintah dapat membantu dengan menciptakan lingkungan yang mendorong pasokan makanan berkelanjutan,” katanya.

Selain itu, sikap konsumen sangat penting. Pasokan makanan didorong oleh permintaan, artinya konsumen memiliki kekuatan tertinggi untuk mengubah situasi ini.

“Mengubah sikap dan perilaku konsumen terhadap pola makan berkelanjutan dapat menuai manfaat lingkungan dalam skala terbesar,” kata Profesor Raubenheimer.

“Salah satu contohnya adalah kebiasaan konsumen di negara-negara kaya yang menuntut makanan musiman sepanjang tahun, yang perlu diangkut dari tempat lain. Makan alternatif musiman lokal, seperti yang kita miliki sepanjang sebagian besar sejarah spesies kita. Itu akan membantu menyediakan planet yang sehat untuk generasi mendatang.”

Sumber:

https://www.earth.com/news/eating-locally-produced-foods-can-reduce-transport-emissions/

Matin, Ibrahim Abdul, 2010: Greendeen (Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam). Zaman. Jakarta

 

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2