Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang

Klikhijau.com - Penasaran dengan manusia prasejarah di Leang-Leang? Pertengahan Maret 2019, bersama rekan dari Pusat Pengendali Pembangunan Sulawesi Maluku kami melancong ke Taman Prasejarah Leang-lea...

Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang
Bacakan Artikel

Ketakjuban saya belum hilang sambil membayangkan manusia jaman dahulu ini telah mengenal seni. Namun sejumlah pertanyaan juga menyeruak dalam hati, apakah arti lukisan ini? Mengapa harus melukis cap tangan?

Setelah menuruni tangga leang ini, pemandu pun mengarahkan kami menuju gua lainnya, Leang Pettae. Berkeliling di taman prasejarah ini begitu mengasikkan. Udaranya lebih segar dengan paduan suara merdu aliran Sungai Leang-leang. Tak perlu berjalan jauh, hingga akhirnya sampailah kami di depan Leang Pettae.

Leang Pettae cukup terkenal di kalangan arkeologi. Leang inilah yang menjadi cikal bakal temuan sejumlah gua di Maros, bahkan untuk wilayah Sulawesi Selatan. Adalah van Heekeren dan Miss Heeren Palm untuk pertama kalinya menemukan lukisan gua yang berada di Leang Pettae pada tahun 1950.

Saat berada dalam leang, Boli Lawa, menunjukkan kepada kami lukisan prasejarah berupa cap-cap tangan berlatar belakang cat merah. Analisis penemunya: Miss Heern Palm, lukisan tapak tangan berlatar belakang cat merah itu diduga adalah gambar tangan kiri wanita. Boli Lawa juga menunjukkan kepada saya: lukisan babi rusa yang sedang meloncat dengan mata panah menancap pada bagian dadanya.

Saat keluar dari Leang Pettae, saya mendapati tumpukan sampah dapur. Menghampar pada pelataran gua, telah bercampur dengan tanah hingga puluhan sentimeter.

Fosil-fosil moluska ini masih utuh, tak termakan oleh zaman. “Ini adalah sisa makanan manusia prasejarah saat menghuni leang ini,” terang Boli Lawa. “Peneliti arkeologi juga menemukan beberapa alat batu berupa alat serpih bilah di sekitar Leang Pettae ini. Alat yang mereka gunakan mengiris ataupun memotong,” tambahnya.

Saya begitu puas meninggalkan taman prasejarah ini. Mendapat pengetahuan baru akan kehidupan manusia yang belum mengenal baca tulis kala itu. Meski masih menyisakan sejumlah tanya yang menggantung. Untuk mengobati rasa penasaran akan arti lukisan-lukisan manusia prasejarah, saya kemudian menemui Rustan, staf BPCB Sulawesi Selatan.

“Menurut beberapa ahli berpendapat bahwa tujuan manusia prasejarah membuat lukisan gua itu erat kaitannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Tidak semata-mata hanya untuk sekedar tujuan keindahan,” terang Rustan.

“Ada juga yang memperkirakan bahwa lukisan tersebut sebagai bentuk permohonan yang mereka tujukan kepada kekuatan yang mereka percayai dapat mengabulkannya, seperti halnya doa,” tambahnya.

Rustan juga menerangkan bahwa pertanggalan lukisan berkisar antara 40 ribu hingga 17 ribu tahun yang lalu. Tinggalan mereka tak hanya di dua leang ini, sampai saat ini BPCB Sulawesi Selatan telah mengidentifikasi sedikitnya 309 situs gua prasejarah di kawasan karst Maros dan Pangkep.

Betapa manusia yang belum mengenal aksara ini telah mampu menciptakan mahakarya yang begitu spektakuler. Bukan hanya mampu menghasilkan karya otentik, juga menggunakan bahan yang mampu bertahan hingga puluhan ribu tahun lamanya.

Semoga lukisan manusia prasejarah ini terus terjaga. Bagi wisatawan yang berkunjung agar mematuhi adab yang berlaku. Tidak menyentuh lukisan saat berkunjung sebagai salah satu contohnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2