Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang

oleh -17 kali dilihat
Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang

Klikhijau.com – Hangat pagi menyambut kala itu. Pertengahan Maret 2019, bersama rekan dari Pusat Pengendali Pembangunan Sulawesi Maluku kami melancong ke Taman Prasejarah Leang-leang.

Kami berkumpul di Santuary Kupu-kupu, Kawasan Wisata Bantimurung. Setelah bercengkrama sejenak, kami menuju empuknya kursi tumpangan. Roda empat membawa rombongan kami menuju Leang-leang.

Memasuki pedesaan, jalan mulai menyempit. Jalan berbeton melancarkan perjalanan kami. Kendaraan kami terus menusuk menyusuri jalan.

Saya takjub dengan hidangan alam: puncak Gunung Bulusaraung dan hamparan sawah berpadu tunggak-tunggak karst berdiri megah dengan tinggi ratusan meter. Hingga beberapa puluh menit kemudian sampailah kami pada Taman Prasejarah Leang-leang.

Taman prasejarah ini terkenal sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang menyajikan sisa peninggalan manusia prasejarah yang menghuni gua. Taman ini berada di Kelurahan Leang-leang, Bantimurung, Maros.

KLIK INI:  Misteri Lukisan Tapak Tangan di Gua Prasejarah Pattunuang

Boli Lawa, Pemandu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, mendampingi kami mengitari kompleks taman prasejarah. Kami selanjutnya menuju gua prasejarah, Leang Petta Kere. Leang berarti gua dalam bahasa Bugis-Makassar. Tak lama berjalan, sampailah kami di kaki bukit karst yang megah itu.

Untuk mencapai mulut gua, kami harus menaiki tangga besi. Puluhan anak tangga besi bercat putih itu cukup membuat nafas kami tersengal-sengal. Hingga akhirnya kami sudah berada dalam gua. “Di atas sana lukisannya,” kata Boli Lawa sembari menunjukkan jari ke pelataran depan gua yang bertebing.

“Bolehkah lebih dekat dari lukisan itu?” tanya saya penuh harap. “Silahkan Mas, hati-hati ya,” pungkasnya.

Saya kemudian memanjat batu di sisi tebing. Waow.. luar biasa karya manusia yang hidup puluhan ribu tahun lalu ini. Tampak oleh saya lukisan cap tangan dan seekor babi rusa utuh pada dinding gua. Tak hanya satu, ada puluhan gambar cap tangan.

“Cap tangan ini dibuat dengan cara: merentangkan jari-jari tangan di dinding gua kemudian ditaburi cat merah,” terang sang pemandu yang berumur 50 tahunan ini.

Ketakjuban saya belum hilang sambil membayangkan manusia jaman dahulu ini telah mengenal seni. Namun sejumlah pertanyaan juga menyeruak dalam hati, apakah arti lukisan ini? Mengapa harus melukis cap tangan?

KLIK INI:  4 Jenis Kupu-Kupu Ini Dilindungi di TN Bantimurung Bulusaraung

Setelah menuruni tangga leang ini, pemandu pun mengarahkan kami menuju gua lainnya, Leang Pettae. Berkeliling di taman prasejarah ini begitu mengasikkan. Udaranya lebih segar dengan paduan suara merdu aliran Sungai Leang-leang. Tak perlu berjalan jauh, hingga akhirnya sampailah kami di depan Leang Pettae.

Leang Pettae cukup terkenal di kalangan arkeologi. Leang inilah yang menjadi cikal bakal temuan sejumlah gua di Maros, bahkan untuk wilayah Sulawesi Selatan. Adalah van Heekeren dan Miss Heeren Palm untuk pertama kalinya menemukan lukisan gua yang berada di Leang Pettae pada tahun 1950.

Saat berada dalam leang, Boli Lawa, menunjukkan kepada kami lukisan prasejarah berupa cap-cap tangan berlatar belakang cat merah. Analisis penemunya: Miss Heern Palm, lukisan tapak tangan berlatar belakang cat merah itu diduga adalah gambar tangan kiri wanita. Boli Lawa juga menunjukkan kepada saya: lukisan babi rusa yang sedang meloncat dengan mata panah menancap pada bagian dadanya.

Saat keluar dari Leang Pettae, saya mendapati tumpukan sampah dapur. Menghampar pada pelataran gua, telah bercampur dengan tanah hingga puluhan sentimeter.

Fosil-fosil moluska ini masih utuh, tak termakan oleh zaman. “Ini adalah sisa makanan manusia prasejarah saat menghuni leang ini,” terang Boli Lawa. “Peneliti arkeologi juga menemukan beberapa alat batu berupa alat serpih bilah di sekitar Leang Pettae ini. Alat yang mereka gunakan mengiris ataupun memotong,” tambahnya.

Saya begitu puas meninggalkan taman prasejarah ini. Mendapat pengetahuan baru akan kehidupan manusia yang belum mengenal baca tulis kala itu. Meski masih menyisakan sejumlah tanya yang menggantung. Untuk mengobati rasa penasaran akan arti lukisan-lukisan manusia prasejarah, saya kemudian menemui Rustan, staf BPCB Sulawesi Selatan.

KLIK INI:  Karst dan Gua Purba di Maros-Pangkep serta 3 Hal Fenomenal di Baliknya

“Menurut beberapa ahli berpendapat bahwa tujuan manusia prasejarah membuat lukisan gua itu erat kaitannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Tidak semata-mata hanya untuk sekedar tujuan keindahan,” terang Rustan.

“Ada juga yang memperkirakan bahwa lukisan tersebut sebagai bentuk permohonan yang mereka tujukan kepada kekuatan yang mereka percayai dapat mengabulkannya, seperti halnya doa,” tambahnya.

Rustan juga menerangkan bahwa pertanggalan lukisan berkisar antara 40 ribu hingga 17 ribu tahun yang lalu. Tinggalan mereka tak hanya di dua leang ini, sampai saat ini BPCB Sulawesi Selatan telah mengidentifikasi sedikitnya 309 situs gua prasejarah di kawasan karst Maros dan Pangkep.

Betapa manusia yang belum mengenal aksara ini telah mampu menciptakan mahakarya yang begitu spektakuler. Bukan hanya mampu menghasilkan karya otentik, juga menggunakan bahan yang mampu bertahan hingga puluhan ribu tahun lamanya.

Semoga lukisan manusia prasejarah ini terus terjaga. Bagi wisatawan yang berkunjung agar mematuhi adab yang berlaku. Tidak menyentuh lukisan saat berkunjung sebagai salah satu contohnya.

KLIK INI:  Suntuk dengan Rutinitasmu? Berkemaslah Menuju 7 Desa Wisata Ini!
Penulis: Taufiq Ismail
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!