Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang

Klikhijau.com - Penasaran dengan manusia prasejarah di Leang-Leang? Pertengahan Maret 2019, bersama rekan dari Pusat Pengendali Pembangunan Sulawesi Maluku kami melancong ke Taman Prasejarah Leang-lea...

Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Penasaran dengan manusia prasejarah di Leang-Leang? Pertengahan Maret 2019, bersama rekan dari Pusat Pengendali Pembangunan Sulawesi Maluku kami melancong ke Taman Prasejarah Leang-leang.

Kami berkumpul di Santuary Kupu-kupu, Kawasan Wisata Bantimurung. Setelah bercengkrama sejenak, kami menuju empuknya kursi tumpangan. Roda empat membawa rombongan kami menuju Leang-leang.

Memasuki pedesaan, jalan mulai menyempit. Jalan berbeton melancarkan perjalanan kami. Kendaraan kami terus menusuk menyusuri jalan.

Saya takjub dengan hidangan alam: puncak Gunung Bulusaraung dan hamparan sawah berpadu tunggak-tunggak karst berdiri megah dengan tinggi ratusan meter. Hingga beberapa puluh menit kemudian sampailah kami pada Taman Prasejarah Leang-leang.

Taman prasejarah ini terkenal sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang menyajikan sisa peninggalan manusia prasejarah yang menghuni gua. Taman ini berada di Kelurahan Leang-leang, Bantimurung, Maros.

Boli Lawa, Pemandu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, mendampingi kami mengitari kompleks taman prasejarah. Kami selanjutnya menuju gua prasejarah, Leang Petta Kere. Leang berarti gua dalam bahasa Bugis-Makassar. Tak lama berjalan, sampailah kami di kaki bukit karst yang megah itu.

Untuk mencapai mulut gua, kami harus menaiki tangga besi. Puluhan anak tangga besi bercat putih itu cukup membuat nafas kami tersengal-sengal. Hingga akhirnya kami sudah berada dalam gua. "Di atas sana lukisannya," kata Boli Lawa sembari menunjukkan jari ke pelataran depan gua yang bertebing.

“Bolehkah lebih dekat dari lukisan itu?” tanya saya penuh harap. "Silahkan Mas, hati-hati ya," pungkasnya.

Saya kemudian memanjat batu di sisi tebing. Waow.. luar biasa karya manusia yang hidup puluhan ribu tahun lalu ini. Tampak oleh saya lukisan cap tangan dan seekor babi rusa utuh pada dinding gua. Tak hanya satu, ada puluhan gambar cap tangan.

“Cap tangan ini dibuat dengan cara: merentangkan jari-jari tangan di dinding gua kemudian ditaburi cat merah,” terang sang pemandu yang berumur 50 tahunan ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2