Klikhijau dan Yayasan Kalla Kolaborasi Edukasi Pertanian Berkelanjutan di Desa Gareccing

Klikhijau.com – Semangat kolaborasi ditunjukkan antara Klikhijau, Yayasan Hadji Kalla dan Komunitas Pemuda Desa Gareccing dengan melaksanakan edukasi pengelolaan lingkungan dan pertanian berkelanjutan...

Klikhijau dan Yayasan Kalla Kolaborasi Edukasi Pertanian Berkelanjutan di Desa Gareccing
Bacakan Artikel

“Singkatnya, jika lingkungan kita baik, maka petani tentu bisa sejahtera. Pengetahuan-pengetahuan itu akan diberikan melalui pelatihan ini agar  tidak terjadi semacam benturan antara pertanian dan kepentingan lingkungan,” pungkasnya.

Sesi Pelatihan

Pelatihan literasi praktis difasilitasi oleh tokoh pemuda Desa Gareccing, Syamsul Bahri.

Mengantar sesi diskusi, Syamsul Bahri juga menyentil sederet masalah yang dihadapi petani termasuk dalam beternak.

“Petani di sini juga umumnya beternak sapi, kambing dan ayam. Banyak kendala yang dihadapi petani, salah satunya dalam hal pemanfaatan pakan organic,” tuturnya.

Sesi pelatihan ini dihantar oleh Nurhaji Madjid, Technical Advisor Klikhijau. Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai tenaga ahli desa, Nurhaji membongkar banyak hal yang selama ini keliru di masyarakat.

“Dalam beternak sapi misalnya, selama ini sapi diberi minum dengan mencampurkan garam di dalam ember. Jadi sapi minum garam. Cara ini sekian lama dijalankan petani. Padahal ini keliru,” katanya.

“Asupan garam yang terlalu banyak di sapi justru akan membuat sapi lambat berat badannya. Ini adalah “politik pedagang sapi” agar sapi kelihatan besar dan berat. Padahal dampaknya lebih besar seperti sapi kembung, sakit hingga kerdil,” tuturnya.

Pembahasan mengenai peternakan sapi mengantar sesi diskusi. Nurhaji juga membahas panjang lebar mengenai teknik merontokkan jamur pada tanaman dengan memanfaatkan sabun yang diolah dari minyak jelantah.

Nurhaji juga membahas teknik komposter yang benar dengan memanfaatkan rumput liar yakni balakacida.

“Rumput ini melimpah dan tidak dapat digunakan sebagai pakan ternak. Sapi tidak suka memakannya. Lagi pula, kandungannya kurang baik untuk ternak. Namun, rumput balakacida sangat baik untuk kompos,” tambahnya.

Praktik pengomposan pun dilakukan dengan mencampurkan balakacida, kotoran sapi, limbah batang pisang dan dedak. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti pelatihan, terutama karena Nurhaji berhasil menunjukkan rumus-rumus kimia dari pengomposan dengan Bahasa yang mudah dimengerti.

“Ini menarik sekali karena banyak pengetahuan baru kami dapatkan. Semua terjawab hari ini. mulai dari masa pemupukan yang benar, cara membuat kompos, teknik merontokkan jamur dan lumut di tanaman dan banyak lagi. Narasumbernya sangat ahli di bidangnya. Sayang, waktu pelatihan ke depannya kalau bisa ditambah agar kami bisa mempelajari lebih banyak lagi,” tutur Ashar, seorang peserta pelatihan.

Tak terasa sesi pelatihan berlangsung sangat interaktif dari pagi hingga sore hari. Pelatihan ini rencananya akan ditindaklanjuti dengan pelatihan lanjutan yang lebih mendalam.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2