Jelang COP 30, Indonesia Harus Siap Pimpin Agenda Iklim Global

Klikhijau.com – November mendatang, Konferensi Para Pihak (COP) ke-30 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) akan kembali digelar. Negara yang menjadi tuan rumah adalah Brasil....

Jelang COP 30, Indonesia Harus Siap Pimpin Agenda Iklim Global
Bacakan Artikel

Terlibat aktif dalam 12 agenda

Indonesia sendiri terlibat aktif dalam 12 agenda utama di SB 62, yang mencakup 19 kelompok kerja. Agenda-agenda tersebut meliputi isu global stocktake, loss and damage, ketahanan pangan dan pertanian, kelautan, gender dan perubahan iklim, hingga pembiayaan jangka panjang.

“Kita diminta menyusun dokumen kerugian dan kerusakan lalu rencana adaptasi nasional. Isu-isu lain yang juga sedang bergulir adalah gender dan perubahan iklim, komunitas lokal dan masyarakat adat, dan peninjauan ulang terkait isu peningkatan kapasitas negara-negara berkembang,” jelas Wamen Diaz.

Dalam forum tersebut, Wamen Diaz juga menegaskan bahwa perjuangan Indonesia di COP 30 bukan sekadar menuntut keadilan pendanaan, tetapi juga kepemimpinan dalam arah transformasi global menuju masa depan rendah emisi dan tangguh iklim.

Saat ini, Indonesia tengah menyusun Rencana Adaptasi Nasional (RAN) sebagai strategi nasional menghadapi risiko bencana iklim. Selain itu, Indonesia juga terus mendorong implementasi penguatan kerugian dan kerusakan dan skema karbon internasional seperti Pasal 6.4 dari Perjanjian Paris.

“Walaupun sudah ada share of prosed dalam Artikel 6.4 yang menjelaskan soal pembagian keuntungan skema perdagangan karbon kepada negara berkembang, Indonesia masih bertekad mendorong penambahan kontribusi yang didanai dari negara maju,” tegas Wamen Diaz.

Wamen Diaz mengajak seluruh K/L untuk bersatu dan aktif memperkuat Indonesia dalam forum internasional, bukan sekedar membawa nama instansi, melainkan posisi suara resmi negara.

“Saya butuh dan mohon kehadiran bapak/ibu di Belem untuk setiap kelompok kerja sebagai owner of the issue, karena yang kita perjuangkan bukan posisi KLH, tetapi posisi RI,” pungkas Wamen Diaz.

Rapat ini ditutup dengan paparan dari masing-masing kelompok kerja yang menghadiri SB 62, termasuk rekomendasi teknis dan arah tindak lanjut menjelang COP 30. KLH/BPLH sebagai National Focal Point UNFCCC akan terus mengoordinasikan seluruh proses negosiasi menuju posisi Indonesia yang kuat, strategis, dan berpengaruh di forum iklim dunia. (*).

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2