Guru Besar Unhas Sebut Sektor Perikanan sebagai Pilar Ekonomi, Gizi, dan Keberlanjutan di KTI

Klikhijau.com - Kawasan Timur Indonesia (KTI) memiliki potensi besar di sektor perikanan. Dari kegiatan penangkapan hingga pengolahan, distribusi, dan penjualan ikan, sektor ini menyediakan banyak pel...

Guru Besar Unhas Sebut Sektor Perikanan sebagai Pilar Ekonomi, Gizi, dan Keberlanjutan di KTI
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kawasan Timur Indonesia (KTI) memiliki potensi besar di sektor perikanan. Dari kegiatan penangkapan hingga pengolahan, distribusi, dan penjualan ikan, sektor ini menyediakan banyak peluang kerja yang membantu mengurangi angka pengangguran.

Prof. Nita Rukminasari, guru besar perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas), menegaskan, Sektor perikanan signifikan dalam mengurangi angka pengangguran.  dalam Diskusi yang yang digelar Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia bertajuk krisis iklim dan tantangan pengelolaan perikanan di KTI.

Namun, potensi besar ini menghadapi tantangan besar, terutama akibat dampak perubahan iklim, praktik yang tidak berkelanjutan, dan keterbatasan tata kelola.

[irp]


KTI dikenal memiliki salah satu ekosistem laut terkaya di dunia. Terumbu karang, mangrove, dan padang lamun yang melimpah di kawasan ini mendukung biodiversitas laut yang luar biasa.

"Kita memiliki kawasan Wallacea, termasuk dalam hotspot terumbu karang dunia, dan berada di urutan ketiga tertinggi biodiversitas laut di dunia," ungkap Prof. Nita.

Ikan tuna, cakalang, kakap, dan kerapu merupakan beberapa spesies unggulan di kawasan ini yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, ikan menjadi sumber protein utama bagi masyarakat, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap sumber pangan lainnya.

Namun, kekayaan laut ini bukan hanya soal ekonomi. Tradisi, ritual, dan budaya masyarakat pesisir sangat erat dengan sektor perikanan, menjadikannya bagian integral dari kehidupan mereka.

Dampak Perubahan Iklim


Perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi sektor perikanan di KTI. Kenaikan suhu laut, pengasaman laut, dan peristiwa cuaca ekstrem telah berdampak langsung pada hasil tangkapan ikan.

Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020 menunjukkan penurunan hingga 30-40 persen pada ikan demersal seperti kakap dan kerapu di beberapa daerah, termasuk Maluku dan Papua.

[irp]

Para nelayan juga merasakan perubahan ini secara langsung. "Sepuluh tahun lalu, ikan melimpah di jarak 500-1 km dari pesisir, sekarang harus pergi lebih jauh. Bensin jadi kebutuhan besar," ungkap seorang nelayan lokal.

Menurut penelitian Prof. Nita, tingkat kerentanan ekonomi nelayan mencapai level tertinggi di beberapa pulau, seperti Pulau Kodingareng di Spermonde, dengan 86,7% nelayan berada pada kondisi gagal pulih secara ekonomi.

Tantangan dan Solusi untuk Sektor Perikanan


Selain perubahan iklim, overfishing atau penangkapan ikan berlebih menjadi ancaman lain bagi keberlanjutan sektor perikanan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2