Dari Malang, Aktivis Lingkungan Serukan Penyelamatan Bayi dari Racun Mikroplastik

Klikhijau.com - Perlawanan terhadap ancaman yang tak kasat mata, yakni mikroplastik menggema di Kota Malang yang sejuk. Aksi perlawanan itu dilakukan di jantung Kota Malang, 13 Agustus 2025 kemarin....

Dari Malang, Aktivis Lingkungan Serukan Penyelamatan Bayi dari Racun Mikroplastik
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Perlawanan terhadap ancaman yang tak kasat mata, yakni mikroplastik menggema di Kota Malang yang sejuk. Aksi perlawanan itu dilakukan di jantung Kota Malang, 13 Agustus 2025 kemarin.

Sekelompok aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation), Mahasiswa Relawan Peduli Air Masyarakat dan Alam (Marapaima), dan Aksi Biroe Universitas Brawijaya melakukan aksi teatrikal di depan Balaikota, Malang.

Tercatat dua puluh orang beraksi, bukan hanya berteriak, tetapi juga bercerita. Mereka menuntut satu hal, yakni Perda Pembatasan Plastik Sekali Pakai (PSP). Bagi mereka, ini adalah benteng terakhir melawan gelombang sampah plastik yang mengancam Kota Malang.

Kota Malang, yang seharusnya menjadi surga kecil, justru menjadi penyumbang sampah plastik ke Sungai Brantas yang legendaris.

Ecoton mengungkap fakta pahit bahwa warga Muharto setiap hari membuang sampah ke sungai, karena tata kelola yang bobrok dan aturan yang lemah. Bendungan Sengguruh menjadi kuburan bagi plastik sekali pakai, 78% sampahnya adalah bukti nyata kegagalan kita.

Manuel Marsahata Togi Sidabutar, dengan mata berbinar dari Aksibiroe Universitas Brawijaya, mengingatkan, "Sungai kita sekarat, dan kesehatan kita terancam mikroplastik!"

Kota Malang berada di titik nadir. Setiap hari, lebih dari 106 ton sampah plastik membanjiri kota, membebani TPA Supit Urang dan mencemari tanah serta air. Surat Edaran Wali Kota Malang No. 8/2021 hanyalah kertas tak bertaji, tanpa pengawasan dan sanksi yang tegas. Kafe, restoran, dan UMKM terus berpesta dengan kemasan sekali pakai, tanpa peduli dampak jangka panjangnya.

Alaika Rahmatullah, Koordinator Aksi Selamatkan Malang Bebas Plastik, dengan suara lantang menyerukan, "Kita harus bertindak sekarang! Pemerintah Kota Malang harus segera membuat aturan yang mengikat, bukan sekadar himbauan!"

Namun, ancaman mikroplastik merayap lebih jauh, masuk ke dalam tubuh kita. Penelitian terbaru mengungkap fakta mengerikan bahkan mengintai feses bayi yang telah mengandung mikroplastik 14,3 kali lebih tinggi dari orang dewasa. Bahkan, darah ibu hamil membawa ribuan partikel mikroplastik, bom waktu bagi generasi mendatang.

"Mikroplastik adalah racun yang mengintai. Ia dapat menyebabkan kanker, gangguan pernapasan, dan berbagai penyakit lainnya,” Alaika Rahmatullah dari Ecoton.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2