Begini Perspektif Agama Islam Menjawab Transisi Energi

Klikhijau.com - Sumber utama roda kehidupan ditunjang oleh energi, keberadaan energi merupakan bagian vital dalam aktivitas sehari-hari. Tidak ada energi, tidak ada juga kehidupan, kiasan itu nampa...

Begini Perspektif Agama Islam Menjawab Transisi Energi
Bacakan Artikel

Degradasi kualitas lingkungan hidup, reduksi parah keanekaragaman hayati, serta polusi udara terus meningkat. Di tengah situasi itu, gempuran ketidakpastian global juga menjadi ancaman nyata.

Diskursus ketahanan energi nasional, dapat dikatakan seiringan dengan visi pemerintah dalam menempatkan masa depan Indonesia pada era Net Zero Emmision (NZE).

Melalui Kementrian ESDM, total potensi energi terbarukan PET dalam negeri mencapai 417,8 GW, yang terdiri dari potensi laut 17,9 GW, panas bumi 23,9 GW, bioenergy 32,6 GW, bayu 60,6 GW, hidro 75 GW dan surya 207,8 GW. Target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen jelang 2025 ini, permenuhan kapasitas pembangkit listrik EBT pada 2025 harus sekitar 45, 2 GW dan pada tahun 2050 sekitar 167,7 GW.

Selain itu, penerapan sektor energi energi terbarukan sejalan dengan pembangunan berkelanjutan baik secara prinsip dan sifatnya yang berusaha mengkonservasi daya tahan lingkungan untuk kepentingan masa depan.

Pandangan islam akan Transisi Energi

Islam tidak anti perubahan, agama Islam mendorong gerak perubahan ke arah yang lebih baik. Tak terkecuali dalam konteks energi. Memimjam seruan Sayyid Abdurrahman al-Ahdal dalam al-mawahib As-Saniyyah bahwa ulama harus mengutamakan kemaslatan umat ketimbang kemafsadatan

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa manusia harus berserikat dalam tiga hal: energi, air dan udara. Bila ditelisik secara kontekstual, Rasulullah SAW memberi pesan ajaran moral agar manusia berhati-hati dalam memanfaatkan energi. Dalam hal ini, manusia mesti memanfaatkan energi secara tidak berlebihan,

Dalam surat Ar-Rum Ayat 46 mengatakan, ‘‘Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatnya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Pandangan ayat di atas, menujukkan bagaimana umat manusia diserukan memanfaatkan angin untuk berguna bagi umat manusia, dalam artian pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersumber pada kreativitas dan inovasi dari akal budi manusia dibutuhkan untuk mengelola teknologi dengan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga angin.

Qur-an surat Al-A’raf ayat 128 yang berbunyi, ‘‘manusia merupakan khalifah Allah. Bumi dan seluruh isinya diamanahkan kepada umat manusia untuk dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya’’.

Di sini, agama islam berupaya melihat dari sudut pandang fikih sebagai al-‘ilmu bi al-ahkam asysyar'iyyah al-‘amaliyyah al-muktasabu min adillatiha at-tafshiliyyah, atau ilmu tentang hukum-hukum agama yang bersifat praktis.

Penerapan energi terbarukan sejalan dengan ta’abuddy yang berarti tindakan melakukan pelestarian alam yang merupakan bagian dari kepatuhan terhadap Allah SWT. Menjaga bumi dan segala isinya secara ilmu fikih merupakan wajib.

Maka secara garis besar, Islam tidak melarang transisi energi, tetapi mendorongnya demi kemanfaatan untuk kerberlangsungan hidup manusia. Selagi tidak menimbulkan madlarat/mafsadah maka pada dasarnya tidak ada larangan.

Maka penerapan energi terbarukan adalah solusi terbaik untuk menjaga kelangkaan energi, ketahanan energi nasional dan kelestarian lingkungan. Wallahu a’lam.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2