Pohon Kenangan

Sebatang  pohon tumbuh di belakang rumah. Berdaun lebat hingga separuh atap tertutup. Saking lebatnya sinar matahari tak diberi sempat untuk lolos. Pakaian yang dijemur Ibu harus sabar ditunggui hingg...

Pohon Kenangan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sebatang  pohon tumbuh di belakang rumah. Berdaun lebat hingga separuh atap tertutup. Saking lebatnya sinar matahari tak diberi sempat untuk lolos. Pakaian yang dijemur Ibu harus sabar ditunggui hingga tiga hari agar kering. Aku sering ingin memangkas pohon  tersebut, tapi Ibu selalu melarang.

“Tunggu hari baik, Nak,” selalu begitu jawaban Ibu jika ada di antara kami yang akan memangkasnya. Pohon itu seolah menyimpan kutukan purba.  Kakak pertamaku pernah memangkasnya dan ia terjatuh dari pohon itu. Kepalanya mendapat enam jahitan karena terbentur di batu. Sejak kejadian itu ia tak pernah lagi memanjatnya. Kakak keduaku juga pernah melakukannya, tapi baru satu ranting  dipangkas parangnya tiba-tiba jatuh dan mengenai kakinya. Untung lukanya tak parah.  Ibu datang menyemprotnya dengan amarah.

Pohon itu hanya bisa dipangkas melalui restu Ibu.  Terakhir dipangkas tiga tahun lalu saat kakak pertamaku menikah. Dan akulah pelakunya. Sebelum memanjat Ibu mengecup ubun-ubunku tanda restunya. Dan ajaib, tak ada kejadian yang mendebarkan.

Pernah suatu hari ketika Ibu mengunjungi kakak pertamaku. Aku berniat memangkas pohon tersebut tanpa sepengetahuannya. Parang kuasah setajam mungkin, tapi niat itu berhenti dengan turunnya hujan deras selama tiga hari. Rencana matang itu berantakan.

Apa dan bagaimana pohon itu aku tak pernah tahu. Ibu tak pernah cerita. Ia melipat sendiri rahasianya. Kedua kakakku pun tak pernah tahu. Kami tak pernah mendesak Ibu untuk cerita. Begitupun dengan Ayah semasa hidupnya. Keduanya seperti sepakat memelihara misteri di dalamnya.

Jika dilihat sekilas pohon tersebut serupa pohon sawo. Tapi buahnya merah, rasa buahnya perpaduan antara asin dan manis. Aku belum pernah menemukan pohon seperti itu. Dan hanya akan berbuah di bulan Agustus sebulan penuh. Tak heran jika di bulan Agustus, pohon tersebut sibuk menerima tetamu berbagai jenis burung, bahkan pa’niki ‘kelelawar’ membuat sarang dalam rumah.

Melipat rahasia kenangan

“Rabu lusa, jam sembilan pagi pangkaslah pohon itu!” pinta Ibu. Mata tuanya tak bisa menyembunyikan sedihnya yang bukit.

“Ada apa dengan pohon itu, Bu?”

“Itu pohon kenangan, Nak”

“Maksud Ibu?”  tanyaku.

“Berdoalah sebelum memanjatnya,” saran Ibu. “Di bawahnya tertanam tembunimu, juga tembuni kedua kakakmu. Pohon itu ditanam bersama tembuni Sakir. Kalian bertiga tak bisa dipisahkan darinya,” terang Ibu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2