Petani di Desa Penyangga TN Kelimutu Kembangkan Pupuk Organik dari Gulma Hutan

oleh -360 kali dilihat
Petani di Desa Penyangga TN Kelimutu Kembangkan Pupuk Organik dari Gulma Hutan
Pupuk organik dari gulma hutan - Foto/TN Kelimutu
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Petani di desa penyangga Taman Nasional (TN) Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengembangkan pupuk organik berbahan gulma hutan.

Keberadaan tumbuhan gulma hutan (Invasive Alien Species) atau invasif asing Kirinyuh (Austroeupatorium inulifolium) sangat mengganggu ekosistem TN Kelimutu. Diantaranya dapat mengubah bentang alam di sana.

Tumbuhan yang sulit diberantas ini bahkan telah menyerang lebih dari 300 ha dari 5.000 ha luas kawasan taman nasional.

Salah satu strategi pemberantasan jenis invasif asing ini adalah dengan memanfaatkan tanaman invasif Kirinyuh sebagai bahan baku pengembangan pupuk cair organik yang akan bermanfaat bagi petani di kawasan TN Kelimutu.

Seperti dikeketahui, TN Kelimutu dikelilingi oleh 24 desa penyangga, dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani yang sangat membutuhkan pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.

KLIK INI:  Menggunakan Kompos Lebih Hemat dan Dapat Mendongkrak Hasil Panen

“Dengan strategi ini diharapkan dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas pemberantasan jenis tanaman invasif ini, karena dilakukan pihak Balai bersama-sama dengan bantuan masyarakat sekitar yang merasakan manfaatnya,” ujar Kepala Balai TN Kelimutu, Persada A. Sitepu,(15 Mei 2020).

Balai TN Kelimutu mengajak beberapa orang ahli pertanian dari Universitas Nusa Cendana untuk mengembangkan pupuk cair organik berbahan baku Kirinyuh.

Pengembangan pupuk cair organik ini telah dilakukan sejak tahun 2018 melalui percontohan dengan beberapa petani di sekitar kawasan. Uji coba dan pendampingan penggunaan pupuk organik dilakukan pada Kelompok Tani Rimbawan yang berada di desa Nduaria Kecamatan Kelimutu.

Hasilnya memuaskan

Penggunaan pupuk cair organik di Desa Nduari ini telah dilakukan pada beberapa budidaya tanaman pertanian seperti kol, sawi, cabai, bawang merah dan tomat dengan hasil yang memuaskan.

Saat ini, pupuk cair organik yang kemudian diberi nama Nduari ini mulai dimanfaatkan juga oleh beberapa petani di desa lainnya seperti di Desa Wiwipemo, Woloara dan Pemo.

KLIK INI:  Liestiaty F Nurdin, Terus Bergerak Kampanyekan Bahaya Sampah Plastik

“Pupuk Organik berbahan dasar Kirinyuh luar biasa, sangat cocok pada tanaman sayuran, umbi-umbian, bawang, jahe, dan sebagainya. Keunggulan lain dari Pupuk Organik ini adalah menyebabkan tanaman tetap tumbuh dan hidup walaupun ditanam pada siang hari,” ungkap Louyz ketua Kelompok Tani Muriwalo Desa Woloara.

Selain itu, kata Louyz, pertumbuhannya sangat bagus. Ia mencontohkan pada 800 bibit tanaman Sawi miliknya, menunjukkan hasil panen yang memuaskan, dimana tanaman yang siap dipanen semuanya terlihat berwarna hijau segar.

hasil pupuk organik dari gulma hutan
Hasil pertanian memuaskan dengan pupuk organik berbahan gulma hutan di desa penyangga TN Kelimutu – Fot0/Ist

“Kacang panjang hasil panen berpola pertanian organik ini memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan kacang panjang yang dipupuk menggunakan pupuk kimia,” cerita Louyz.

Keberadaan pupuk organik ini sangat membantu para petani di sekitar kawasan TN Kelimutu, dimana dengan harga Rp 50.000,- /1 jerigen 5 liter, masyarakat dapat menghasilkan produk organik sebanyak 1.000 tanaman Sawi Putih pada kebun seluas 10 are dengan harga jual yang lebih tinggi.

Misalnya, sayur sawi biasa (dengan pupuk kimia) dihargai Rp 5.000/kg, sedangkan sayur sawi organik seharga Rp 8.000/kg; bawang merah organik dihargai Rp 30.000/kg, sedangkan bawang merah biasa Rp 15.000-20.000/kg.

“Selain dapat mempercepat pemberantasan tanaman invasif Kirinyuh, penggunaan pupuk organik tersebut juga dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas bahan organik dalam tanah. Produk pertanian organik yang dihasilkan juga akan lebih sehat bagi tubuh dan yang juga tidak kalah penting produk-produk sehat organik dapat menjadi unsur penunjang daya tarik wisata di TN Kelimutu,” pungkas Kepala Balai Kelimutu, Persada A. Sitepu.

KLIK INI:  Mengenal 4 Jenis Pupuk Organik yang Lebih Ramah Lingkungan