Perihal Muja, Aligator Tertua yang Selamat dari Pengeboman Perang Dunia II

Klikhijau.com – Aligator tertua di dunia. Begitulah media menulis tentangku saat menginjakn usia ke 83 tahun. Aku saat ini tinggal di Kebun Binatang Belgrade, Serbia. Usiaku yang semakin tua membua...

Perihal Muja, Aligator Tertua yang Selamat dari Pengeboman Perang Dunia II
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Aku sebenarnya masih berkerabat dekat dengan kelompok hewan buaya (famili Crocodylidae). Aligator adalah nama yang diambil dari bahasa  Spanyol.

Nama itu berawal dari sekelompok koloni Spanyol yang pertama kali menjelajah daerah berawa-rawa yang luas di Semenanjung Florida menjumpai hewan yang mereka sebut el laganto yang berarti "sang kadal".

Kemudian ada koloni Prancis yang saat itu menduduki daerah hilir Sungai Mississippi juga menjumpai hewan-hewan yang sama dan mereka juga menyebutnya Allagetra yang berarti "kadal-rawa".

Nah, kedua kata tersebut akhirnya diserap ke dalam bahasa Inggris oleh koloni Inggris yang juga berada di sana menjadi Alligator (sumber Wikipedia).

Banyak orang berpendapat, aku adalah buaya. Tapi mereka keliru Aligator dengan buaya berbeda. Kamu bisa melihat perbedaan itu  dari bagian mulut dan gigi, mulut aligator terlihat lebih lebar dan bibir tampak rapi menutupi gigi.

Sedangkan buaya mempunyai mulut agak memanjang dan membentuk huruf V, dan banyak terlihat gigi yang keluar dari bibir, walaupun dalam keadaan mulut tertutup. Khususnya gigi keempat bagian bawah.

Berharap hidup lebih lama

Aku menyukai Dokter Jozef Edvedj, karena ia yakin aku masih bisa hidup lebih lama, bahkan hingga usia 100 tahun. Harapannya memberi pula harapan hidup lebih lama bagiku.

“Saya benar-benar berharap kami bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Saya yakin Muja bisa hidup 15 sampai 20 tahun lagi,” kata Edvedj.

Oya, pada tahun 2012 lalu cakar kananku terpaksa diamputasi. Itu karena terjadi  gangren atau kematian jaringan saraf yang disebabkan infeksi dan kurangnya aliran darah. Tapi kini aku hidup dengan kondisi kesehatan yang baik untuk aligator tua sepertiku.

Dan yang mengoperasi cakar kananku adalah Jozef Edvedj. Aku tahu hal itu sangat sulit ia lakukan. Aku mendengar sendiri pengakuannya, tapi ia pantang menyerah demi menyelamatkan nyawaku.

“Operasinya sangat sulit, tapi berhasil. Muja sembuh dan disesuaikan dengan gaya hidup baru," begitu pengakuan Edvedj.

Selama jadi penghuni kebun binatang, aku diberi  makan berupa daging tikus, kelinci, burung, kuda, dan daging sapi.

Aku merupakan hewan berdarah dingin sehingga metabolisme dapat menghambat kerusakan sel dan memperpanjang usianya.

Aku berharap bisa hidup lebih lama lagi seperti harapan Edvedj yang setia merawatku.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2