Berduka Atas Kerusakan Lingkungan, Warga Upacara Bendera di Sungai Bila

Klikhijau.com – Kerusakan lingkungan yang terjadi di sungai Bila diprotes warga dengan cara tidak biasa. Mereka memanfaatkan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun. Car...

Berduka Atas Kerusakan Lingkungan, Warga Upacara Bendera di Sungai Bila
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Kerusakan lingkungan yang terjadi di sungai Bila diprotes warga dengan cara tidak biasa. Mereka memanfaatkan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun.

Caranya dengan menggelar upacara bendera pada tanggal 17 Agustus 2020 lalu di atas sungai Bila yang telah rusak karena tambang galian C.

Padahal sungai tersebut merupakan bagian penting bagi masyarakat. Sungai ini berhulu di tenggara pegunungan Botto Tallu pada elevasi sekira 2.600 Mdpl di Desa Tanatoro, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) hingga bermuara di Danau Tempe, Kecamatan Belawa di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Iya, keberadaannya adalah ‘nyawa’ bagi masyarakat, khususnya  bagi sistem irigasi di Kabupaten Sidrap. Sungai Bila mengairi 9.747 hektare sawah. Dengan luas lahan yang diairi di atas 3000 hektare.

Menurut laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) tahun 2018, tambang galian batuan di sungai Bila mulai beraktivitas pada tahun 2008. Hingga saat ini, kegiatan tambang tersebut masih beroperasi, walau tidak sebanyak yang dulu.  Setidaknya ada tujuh pelaku tambang yang telah melakukan penambangan di Sungai Bila dan hingga saat ini, kondisi sungai bila telah mengalami kerusakan.

Maka pada HUT ke 75 tahun Indonesia di tahun 2020 ini, Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Bila (AMPSB) bersama warga bersuara.

Caranya seperti yang diungkapkan di atas, yakni dengan menggelar upacara bendera di lokasi kubangan tambang. Cara itu sebagai bentuk protes dan  kedukaan atas kerusakan lingkungan yang sebabkan pertambangan berupa  batu, pasir, dan kerikil.

Masa depan suram

Koordinator AMPSB, Andi Tenri Sangka mengungkapkan betapa pentingnya menjaga lingkungan, sebab lingkungan merupakan sumber kehidupan.

“Apalagi sungai Bila, yang merupakan sumber mata air penghidupan rakyat dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari termasuk kebutuhan rumah tangga dan lahan pertanian rusak, maka suramlah masa depan generasi berikutnya,” terangnya.

Penambangan tersebut telah merusak sungai Bila. Bahkan bukan cuma itu, kegiatan tambang di sungai tersebut juga telah merusak lahan perkebunan masyarakat, khususnya di Desa Bila Riase.

Meski aktivitas pertambangan di daerah ini sudah mendapat perhatian para pihak. Namun kegiatan pertambangan itu masih terus berlangsung.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2