Perihal Lenrong (Belut Sawah), Manfaat, dan Inovasi Penangkapannya

Klikhijau.com - A'lenrong (mencari lenrong) dulu harus bermandi lumpur. Penuh perjuangan. Sekarang lebih mudah, lebih modern. Dulu saat ada pacoi (sarang lenrong), akan ditelusuri bahkan hingga ke...

Perihal Lenrong (Belut Sawah), Manfaat, dan Inovasi Penangkapannya
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Cara kedua adalah nipekang atau dipancing, cara ini menggunakan mata pancing seperti yang digunakan memancing ikan. Hanya talinya lebih pendek. Tali saja, tidak perlu gagang pancing sebagai pegangan.

Mata pancing (kail) yang telah diberi umpan akan dimasukkan ke pacio lenrong. Saat lenrong memakannya. Mulutnya akan terkait pada mata kail, setelah terkait, tinggal tarik saja.

Cara ketiga adalah menggunakan setrum. Cara ini dikenal dengan nama niistrong. Aki yang digunakan biasanya aki motor. Cara ini lebih mudah dan peluang "panen" lenrong lebih besar.

Cara ketiga inilah, pada hari Sabtu, 13 Januari 2024 saya saksikan dan ikuti. Saat itu telah sore hari dan saya melihat Puang Cuki sedang ngistrong lenrong di sawah. Saya bergabung dengannya. Membunuh rasa penasaran perihal cara menangkap lenrong dengan cara setrum.

“Gampangmi sekarang mencari lenrong,” terangnya, sambil mencelupkan ke dalam lumpur dua stik besi yang dialiri listrik dari aki.

“Tidak lagi merusak pematang sawah dan hasilnya lebih banyak,”

Apa yang dikatakan Puang Cuki memang benar. Sebab hasil tangkapannya sore itu cukup banyak. Puluhan ekor. Menariknya, lenrong yang ditangkap banyak yang masih hidup, setrum hanya membuatnya pingsan.

[caption id="attachment_30263" align="aligncenter" width="650"] Cara menangkap lenrong (belut sawah) dengan setrum-foto/Ist[/caption]

Manfaat dan kandungan lenrong

Lenrong merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya di masa mendatang.

Affandi dkk, 2003 mengungkapkan saat ini ikan belut sawah (lenrong)  telah dimanfaatkan sebagai sumber protein terutama di kawasan pedesaan.

Bahkan di beberapa daerah telah dieksploitasi secara besar-besaran untuk dijadikan bahan baku pembuatan keripik belut pada industri rumah tangga.

Belut sawah merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik bagi peningkatan dan perbaikan gizi masyarakat (Yusriadi et al., 2017).

Secara ekologi, belut bisa dijadikan sebagai indikator tingkat pencemaran lingkungan. Jika belut sudah menyingkir dari sebuah lingkungan bisa diindikasikan tingkat pencemaran yang terjadi sudah sangat parah atau melebihi ambang batas.

Belut termasuk belut sawah memiliki kandungan protein sangat baik. Selain itu, kandungan mineral seperti kalsium pada belut lebih tinggi dibandingkan pada beberapa jenis ikan lainnya (Persagi, 2009)

Selain itu, belut juga mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6 yang berfungsi untuk kecerdasan otak pada anak-anak.

Menurut Razak dkk (2001) kandungan asam arakidonat dan DHA dalam minyak badan belut adalah 8,25 dan 6,21 g/ 100 g lemak. Berdasarkan penelitian Mulyani (2015) kandungan asam lemak penyusun ekstrak belut didominasi oleh asam oleat (19,7%), asam palmitat (18,7%), pentadecanoic acid (15,81%) dan octadecanoic acid (4,87%).

Termasuk invasif yang terancam

Lenrong sering di jumpai di sekitar area persawahan. Bagi petani, keberadaan lenrong cukup meresahkan. Karena dapat merusak pematang sawah dengan cara melubanginya untuk sarang mereka.

Karena itu, banyak petani yang senang jika ada yang menangkap lenrong di sawahnya. Selama itu tidak merusak padi dan pematang sawah mereka.

Wikipedia mencatat bahwa di Amerika Serikat, lenrong dilaporkan telah diintroduksi di dekat Taman Nasional Everglades di Florida dan Atlanta di Georgia sebagai ikan invasif

Meski begitu, lonreng juga tidak lepas dari ancaman kepunahan. Itu disebabkan oleh penyusutan lahan persawahan, tercemarnya perairan sungai dari kawasan perkotaan yang masuk ke persawahan dan  maraknya penggunaan pestisida di persawahan .

Karena itu, jika ingin menyelamatkan lenrong dari kepunahan dan mengurangi daya rusaknya pada persawahan, maka maka perlu dikembangkan teknologi budidaya ikan belut ini.

Ciri-ciri lenrong

Tidak sulit mengenali lenrong. Selain habitatnya jelas, yakni persawahan. Berikut ciri khas lainnya yang membedakannya dengan belut rawa dan belut lainnya:

  • Warna kulit lebih cerah

  • Panjang tubuh bisa mencapai 45 -50 cm ketika dewasa

  • Bobotnya bisa mencapai 200-300 gr/ekor

  • Habitat hidup di area persawahan

  • Gerakan lincah dan sensitif terhadap getaran/gerakan makhluk lain.

  • Bagian kepala lebih runcing dibandingkan ikan sidat

  • Bentuk ekor lancip

  • Bentuk mata lebih kecil

  • Termasuk hewan hermaprodit (dapat berganti kelamin)

  • Induk betina (siap kawin) pada usia 10 bulan ke bawah dengan panjang 20 – 30 cm dan bobot 20 – 30 ekor/kg

  • Induk jantan (siap kawin) pada usia 10 bulan ke atas dengan panjang 35 – 45 cm dan bobot 4 – 8 ekor/kg.

  • Memiliki tekstur daging yang lembut

  • Memiliki kandungan gizi tinggi.


Demikianlah…

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2