Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Perempuan yang Berjalan di Gelombang

Perempuan yang Berjalan di Gelombang   tibalah daun itu pada kuncupnya. tebarkan hijau. tandai waktu kita berjalan terus ke rawa-rawa benamkan kaki dalam lumpur kita berkejaran ke laut, me...

Oleh Irhyl R Makkatutu 06 Jun 2021 14:10 3 menit baca

Perempuan yang Berjalan di Gelombang

  tibalah daun itu pada kuncupnya. tebarkan hijau. tandai waktu kita berjalan terus ke rawa-rawa benamkan kaki dalam lumpur kita berkejaran ke laut, membaurkan asin keringat kita terus saja berjalan kadang tanpa alas kaki tanpa payung dalam hujan …….senyummu bulan sabit….. …….langkahmu pohon-pohon berakar serabut-kokoh….. …….matamu hijau teduh….. kini kau berjalan cukup jauh ke belantara-sendiri memupuk mimpimu tentang sebuah lembah dengan bebungaan doa-doa aku tahu kau akan sampai lalu bercocok cinta di ladang waktu ….…daun-daun menyentuh jidatmu-khusyuk …....air mengalir basuh kakimu….. ….…gerimis turun sapu peluhmu….. kau musim dalam musim langkahmu semakin jauh menuju gelombang kau tak juga membuang sauh kau penakluk gelombang di napasmu ada gemuruh pinisi pada lakumu ada tarian padduppa pada tuturmu ada sinrilik pakasalamak teruslah berjalan kita akan bertemu pada gelombang yang pasang ketika terik mengangkasa mengundang burung-burung berkicau daun-daun melambai ….…hidup mesti terus bergerak ke depan….. kini-sekarang kau kembali tiba pada daun yang menguncup di matamu …….hijau penuh nostalgia….. sebuah tanda, usia tak pernah berhenti berjalan mendekat lalu menjauh benamkan kita dalam rawa-rawa ajari kita berjalan di gelombang …….terus saja berjalan, karena berhenti berarti menyerah pada maut….. usiamu lalu usiamu kini usiamu nanti pohon-pohon terus bertumbuh
2014
[irp]
=====

Dari Gunung ke Laut

  bau tanah telah sampai ke kamar kita masih berbaring tanah di gunung semalam diangkut ke laut kita sedang lelap Juni, 2021
===

Debat

  di sebatang pohon yang baru di tebang kita berdebat panjang galeri lukis menghadap ke mana? menghadap ke gunung hijau di sana, saranmu boleh, dindingnya kita lukisi pohon beringin atau rumpun bambu kau mengangguk debat kita usai 2021
===

Menunggu Bekas Bibir

  lelaki itu sedang duduk di atas jembatan menunggu sampah lewat "kucari gelas plastik yang menyimpan bekas bibir kekasihku," katanya ia terus saja di sana, matahari pergi dari matanya 2021
===

Yang Lebih Awet

  adakah yang lebih awet dari rindu ada, apa? sampah plastik 2021 [irp]
====

Pertarungan Malam

  seekor jangkrik berjalan jauh ke hutan saat malam ia ingin menikmati suaranya sendiri yang telah kalah bertarung dengan bising kendaraan 2021
===

Asing Jauhku

  aku jadi lupa lorong-lorong di kotamu lupa berapa detik lampu merah akan berubah hijau aku telah berubah asing pada kamu pada diri sendiri di kepalaku, hanya tertinggal pohon kopi dan bukit kecil di seberang jalan kadang kubayangkan rumahmu telah berubah warna catnya dari cokelat tua ke hijau muda dan selokan depan rumahmu tak lagi berwarna pekat tapi bening, di mana tende bisa bermain petak umpat dengan telapak tangan yang hendak menangkapnya di sini, pada jauhku ingatan akan lorong di kotamu memudar tapi peta yang pernah kugambar pada tubuhmu dengan tinta dari larre' masih terang siang Juni, 2021
====

Girang

  begitu tiba di ujung tebing kau berubah jadi anak kecil girang, tak menyangka di sana pada jauh. sungai mengalir menuju rumahmu membawa segala yang bisa hanyut Juni, 2021 [irp]
Topik terkait
#gelombang laut #puisi lingkungan #puisi dan ekologis #puisi alam #perempuan