Patah Tulang, Tanaman Hias yang Ampuh Patahkan Penyakit

Klikhijau.com – Patah Tulang, tanaman itu tumbuh di depan rumah Kahar. Saat hujan menderas kemarin (Kamis, 26 Agustus 2021). Aktivitas menyambung pipa ke tandabaca saya hentikan. Lalu bergeser ke ruma...

Patah Tulang, Tanaman Hias yang Ampuh Patahkan Penyakit
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sedangkan Melina Scandinovita Setiorini dalam Prasad, dkk, (2014) pada  penelitiannya mengungkapkan jika tanaman dari ordo  Malpighiales ini memiliki sifat antimikrobia. Aktivitas antibakteri lebih tinggi pada filtrat rantingnya tanpa pemanasan  daripada dengan pemanasan.

Pada bubuk rantingnya dengan konsentrasi 500 mg/ml. Mampu memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus substilis dan Escherechia coli.  Zona hambat yang dihasilkan melebihi antibiotik ampisilin 100 mg/ml.

Sementara Wardhani (2005), meneliti tentang pengisolasian fraksi aktif dari tanaman ini terhadap Candida albicans. Hasilnya yang ditemukan pada konsentrasi ekstrak 10 persen merupakan konsentrasi yang paling efektif untuk menghambat tumbuh kembangnya jamur.

Dimanfaatkan berbeda di tiap negara

Tanaman bergetah ini menurut Van Damme digunakan berbeda oleh setiap negara dalam hal pengobatan

Di Afrika misalnya, masyarakat di sana menggunakannya sebagai obat untuk mengatasi impoten, kutil, epilepsi,  wasir, sakit gigi, wasir, dan gigitan ular.

Sedangkan di Brazil difungsikan sebagai obat untuk mengusri  kanker, kutil, dan tumor. Lalu bagaimana dengan  Indonesia. Di Negara ini tanaman ini digunakan untuk mengobati bisul, wasir, dan kapalen.

Abdul Rahman Wahid dan Safwan, (2020) menemukan jika hasil skrining fitokimia menunjukan baekstrak etanol batang tanaman ini memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder, yaitu positif terdapat senyawa tanin, flavonoid, dan steroid.

Tanaman dari spesies E. Tirucalli ini adalah salah satu tumbuhan  bersifat toksik terhadap kulit dan lapisan lendir.

Sifat toksiknya ini  dapat dari getahnya yang putih susu. Pada getahnya itu terkandung zat ingenol ester dan phorbol ester.

Bagian dari tanaman dari famili Euphorbiaceae ini  yang kerap digunakan sebagai obat adalah getah, batang, akar kayu, ranting, dan getahnya.

Pada batangnya mengandung senyawa,  euphorbine, taraksaterol, lakterol, euphol, sapogenin, tanin, alkaloid, dan asam elagat.

Asam elagat pada batangnya merupakan  senyawa fenol alam. Senyawa ini temukan dalam bentuk elagitanin pada tanaman. Manfaat dari senyawa asam elagat  adalah sebagai anti oksidan dan anti kanker.

Bukan hanya itu, tanaman yang status konservasinya ini masuk kategori risiko rendah atau stabil memiliki banyak kandungan kimia pada getahnya.

Kandungan kimia tersebut tidak terlalu diperhatikan dalam penggunaan obat tradisional. Padahal  menurut Supriyanto dan Lilis Astria Ika Luviana, (2010) kandungan kimianya  berbahaya karena  bisa melahirkan  efek yang kurang baik pada pengobatan, terutama pada kanker.

Karena getahnya mengandung terpen, termasuk ingenol ester dan phorbol ester. Phorbol ester ini dapat mengakibatkan iritasi. Bahkan pada catatan klinis dapat menjadi pemicu tumor.

Berbunga di bulan tertentu

Tanaman ini memiliki daun yang jarang, berselang-seling yang terdapat pada ujung rantingnya yang  muda. Ukuran daunnya  kecil-kecil.

Daunnya terlihat berbentuk lanset dengan panjang 7 hingga 22 mm. Hal yang aneh dari daun tanaman ini karena dan cepat rontok.

Ia juga memiliki bunga uniseksual yang tersusun dalam mangkuk. Bunganya berwarna  kuning kehijauan yang lahir dari  ujung ranting.

Oya, yang tumbuh di halama rumah Kahar itu belum berbunga, karena tanaman ini biasa berbunga pada bulan Oktober, November, dan Desember.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2