Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pada Lorong di Kotamu

Pada Lorong di Kotamu   aku jadi lupa lorong-lorong di kotamu lupa berapa detik lampu merah akan berubah hijau aku telah berubah asing pada kamu pada diri sendiri pada tiada yang terus...

Oleh Idris Makkatutu 10 Jul 2021 00:13 3 menit baca

Pada Lorong di Kotamu

  aku jadi lupa lorong-lorong di kotamu lupa berapa detik lampu merah akan berubah hijau aku telah berubah asing pada kamu pada diri sendiri pada tiada yang terus tiada di kepalaku, hanya tertinggal pohon kopi hanya bersetia pada pohon cengkih rerumputan dan belalang yang semakin langka dan bukit kecil di seberang jalan kadang kubayangkan rumahmu telah berubah warna catnya dari cokelat tua ke hijau muda dan selokan depan rumahmu tak lagi berwarna pekat tapi bening, di mana tende bisa bermain petak umpat dengan telapak tangan yang hendak menangkapnya di sini, pada jauhku ingatan akan lorong di kotamu memudar sirna tapi peta yang pernah kugambar pada tubuhmu dengan tinta dari larre' masih terang siang Juni, 2021 [irp]
====

Segala Bisa Hanyut

  begitu tiba di ujung tebing kau berubah jadi anak kecil girang, tak menyangka di sana pada dasar jurang sungai mengalir menuju rumahmu membawa segala yang bisa hanyut Juni, 2021 ====

Pada Awalnya Tiada

  ketika kita berjalan ke tepi sungai seekor katak melompat kaget air memercik, tende berlarian air terayun-ayun, tiada apa, tiada siapa terlihat ketika kita diam, mengatur napas air ikut diam kita bercermin tende terdiam air itu kehidupan dari sanalah kita bermula air itu kematian tempat segala bisa pulang
====

Kupikirkan Segala Kau

  bagaimana pikiran berubah mata air si celah batu hidup sedang aku hanya membayangkan kau berubah anak kecil yang menangkap capung. tapi capung semakin langka dimamah pestisida rerumputan tak dibiarkan biak sebab rompo' tanda kemalasan petani dulu anak-anak suka main capung saat pestisida belum mudah ditemukan di kioskios pinggir jalan Kindang, 2021 [irp]
====

Kopi itu Perihal

  ada segelas kopi pagi ini di halaman rumah di bawah pohon mangga di sebuah bangku kayu kendaraan riuh lalu lalang berpindah ke kepala jadi risau panjang bergerak jauh ke nadinadi segelas kopi pagi pahit dan manis terasa satu terasa nyatu kopi itu perihal tak usaiusai rumahkekasih, 22 Maret 2021 ====

Hujan dan Ketakutan

  gumuru masih bersetia di timur pekat meraja petanda hujan segera jadi resah ayah tak lagi ke kebun kopi telah memerah menanti di petik lalu di kirim ke kota untuk diseruput mahasiswa dan pejabat sambil main game gumuru tetap datang dibuntuti hujan membawa gigil dan resah akan banjir da takut akan longsor hujan simalakama datang dibenci alpa dirindu
Kindang, 2021 ====

Tire Tumbuh di Kepala

  ayah baru dari kebun dari tas selempang terbuat dari karung ia membawa tire baru menguncup tak hendak ditanamnya ingin dijualnya saja demi gas dan gula-gula buat cucunya, katanya cucu, permata rindu ayah serupa temukan masa mudanya ketika menimang anaknya endiri. dulu sebelum uban menguncupi kepalanya tire telah hijrah dari kebun ke kepala banyak orang telah hijrah dari satu kebun ke kebun yang lain ayah, selalu saja membawa pulang tire dari kebun untuk esok yang panjang Kindang, 8 Maret 2021 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #puisi dan ekologis #tire #puisi alam #menulis puisi #tentang puisi