Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu

Mentari pagi menyembulkan sinar di balik  rumpun bambu. Burung-burung berkicau di antara dahan-dahannya dan angin menjatuhkan untaian daun-daun. Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan duduk-duduk d...

Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Bibirnya yang merah dan tipis kelihatan seperti buah ceri. Ia sudah pandai menggerak-gerakkan tangan, jemari dan kakinya. Lelaki itu menatap buah hatinya, mahluk mungil yang sangat ia syukuri. Setelah wajah putrinya ditumbuhi putri malu, ia tersenyum malu-malu dan tertidur, lelaki itu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya sambil mendengar suara hujan.

Ketika lelaki itu sudah seperti mulai menulis, dapur akan mengepul, istrinya akan membawakan secangkir kopi dan pisang goreng. Mula-mula ia akan ke tangga rumah melihat tanah dan dedaunan yang basah, menendang-nendang apa saja yang tersentuh air hujan, lalu berdiri di beranda rumah sambil menadahkan tangannya ke atas. Merasai hujan. Mendengarnya. Membuka rahasia di baliknya. Seperti mencari kegaiban yang tersembunyi.

Ia kerap bertingkah aneh dan istrinya kerap berprasangka buruk. Tapi ia mahfum. Itulah suaminya dengan dunia yang penuh imajinasi. Dedaunan yang tergantung di cabang-cabang pohon membuatnya mencuri-curi pandang. Hembusan angin membawa bau yang alami. Suatu perasaan gembira meledak dalam hatinya. Dalam sekejap ia menulis. Tetapi setelah menulis ia mencoretnya lagi.

*****

Akhirnya ia menemukan satu kata yang dikiranya seperti harta karung. Alam. Kata itu menurutnya kata yang pas untuk ia tulis. Tetapi tidak ada penjelasan yang lebih lanjut. Ia seperti merahasiakan sesuatu dan menyimpan catatannya dalam sebuah buku. Ia naik turun tangga dan berlari-lari kecil. Kayu-kayu yang menopang rumahnya bergoyang dan papan-papannya berderit seperti ingin lepas.

Matahari tidak muncul dan hujan pun sudah mereda dan tiada. Ia tidak bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam maupun hujan. Seharian awan gelap menutupi bumi. Sudah seminggu sejak istrinya pergi membawa serta anaknya yang mungil ke suatu tempat, lelaki itu kesepian.

Di depan rumah, ditatapnya bambu-bambu yang rebah dan ranting-ranting pohon yang patah. Ia ke kolong rumah dan memanggil ayam-ayam yang dipeliharanya. Memberinya makan. Ia meracau. Ia mengalami kesulitan. Ia merindukan istrinya. Omelan, kopi buatannya, dan semuanya. Ia juga merindukan suara tangis, tawa, senyum dan tawa gadis kecilnya.

Ia segera mengambil kembali secarik kertas dan duduk sendirian di bawah pohon jambu di pekarangan rumahnya. Ia merontokkan satu buah jambu biji dengan galah. Mengigitnya sebelum ia menulis. Gigitannya seperti memakan buah apel. Ia berharap ada sesuatu yang jatuh di kepalanya. Bukan buah tapi kata. setelah termenung, satu kata yang puitis akhirnya jatuh di kepalanya dan ia tulis. Perempuan. Tempat segala resah ia labuhkan. Tanpanya, rumahnya seperti sungai yang tak berair. Bagaiamanapun ia menikmati hidup baginya istri dan anak adalah sumber kebahagiaan.

Di sudut rumah yang sudah tua, manakala angin berkesiur daun-daun bambu bergemerisik, lelaki itu tergeletak merasakan gigil dan demam. Dadanya seperti disesaki belukar. Kesunyian merayapinya. Ia rindukan gadis-gadisnya. Ia lupa cara berbahagia.

Tirai Bambu, 19 April 2020

Ilham Aidil lahir di Bulukumba. Pengajar PIBA Bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar. Ia menyukai sastra dan filsafat.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2