Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu

Mentari pagi menyembulkan sinar di balik  rumpun bambu. Burung-burung berkicau di antara dahan-dahannya dan angin menjatuhkan untaian daun-daun. Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan duduk-duduk d...

Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Mentari pagi menyembulkan sinar di balik  rumpun bambu. Burung-burung berkicau di antara dahan-dahannya dan angin menjatuhkan untaian daun-daun. Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan duduk-duduk di beranda rumah mengamati suasana kampung sambil menikmati kopi hitam yang baru saja dibuat oleh istrinya. Dilihatnya halaman rumah dan sekitarnya.

Di pekarangan, selain banyak ditumbuhi pohon, juga terdapat kebun kecil yang menyimpan kekayaan bagi para pecinta sayur bening ataupun vegetarian. Ubi kayu, bayam, terong, kangkung, daun kacang, dan lain-lain. Di samping dan belakang rumah, sawah berhektar-hektar luasnya baru saja selesai ditraktor. Burung bangau yang mampir meneguk air dan bebek-bebek berenang-renang di petak sawah yang sudah dialiri air dari sungai kecil dan belum ditanami benih padi.

Semenjak beberapa hari berada di sebuah desa yang banyak terdapat bambu, usai salat subuh, ia selalu melakukan ritual menunggu matahari terbit meski suasana masih terbilang gelap di pinggir jalan yang biasa dilalui kendaraan bermotor dan sapi. Ia melangkah di saat jalan masih sepi. Ia menyukai nyanyian yang berasal dari alam.

Hembusan angin yang datang dari selatan. Ia mendengarnya dengan takzim. Ia nikmati dengan segenap penuh penghayatan. Ia akan beranjak ketika matahari telah terbit dan mengenai pelupuk matanya. Dengan begitu ia akan pulang dengan gembira dan kembali duduk di beranda sambil menikmati kopi yang sudah disiapkan istrinya.

Jika matahari tenggelam ke barat, maka lelaki itu akan melompat dan berjalan menikmati riuh pepohonan dan daun-daun yang tergeletak mengering di sepanjang jalan. Ia melakukan ritual menunggu sinar matahari redup dan padam. Kali ini ia membawa pensil dan beberapa helai kertas. Barangkali ia bermaksud ingin menulis atau menjenguk kebahagiaan di sana. Kalau ia menulis ia bisa lupa segalanya. Mata-matanya berseri-seri seperti pucuk-pucuk daun pohon bambu muda yang tumbuh.

Sesampainya di sana, ia belum menulis apa-apa. Meski pensil digerak-gerakannya. Kertas-kertas ditangannya masih putih kosong. Tanpa bekas coretan. Pandangan jauh ke depan. Ia seperti melakukan percakapan dengan semesta. Berbicara tentang apa saja. Tentang segala hal. Setelah perenungan yang panjang, ia akhirnya menemukan kata yang ia cari, Tuhan.

Hanya itu kata yang berhasil dituliskannya. Kata-kata yang mengandung makna di dunia yang penuh dengan kelana. Ia dan keluarga kecilnya memilih menjalani hidup dengan cara sederhana. Jika berselera istrinya akan memasak sayur yang dipetik langsung dan ia sesekali memancing ikan di sungai kecil untuk digoreng, maka ia akan bergembira menyantapnya bersama istrinya.

*****

Ketika malam datang ia selalu dihibur dengan gemersik daun pohon-pohon bambu, kerik jangkrik dan bunyi serangga yang lain, derit lantai papan dan sesekali anjing yang menggonggong dari belukar dan pohon bambu. Di sana-sini tumbuh pohon bambu.

Hutan bambu itu telah lama tumbuh dan tidak ada yang tahu sejak kapan. Desa yang terbungkus dalam keharuman bambu itu dimuliakan oleh warga desa sebagai warisan leluhur dan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Perhelatan kematian, acara-acara keagamaan, pernikahan. dan pesta panen rakyat yang masih bertahan hari ini.

Begitulah hari-hari lelaki itu berulang-ulang. Hingga suatu hari hujan mencurah dari langit dan bau semerbak bumi menggantung di udara. Ia tidak bisa bertamasya menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Ia menghibur dirinya dengan wajah bayi mungilnya dan hujan yang mengetuk jendela dan atap rumahnya.

Dalam waktu yang berjalan, gadis kecilnya sekarang tiga bulan lebih umurnya. Ia anak yang manis dan imut-imutnya. Ia sudah pandai tersenyum, tertawa dan mengucapkan "Hae", "Uh" dan "Yah".

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2