Minuman Khas Jogja dan Sulsel ini Tak Hanya Enak, Juga Menyehatkan
Klikhijau.com – Suatu waktu di awal malam, Ibu sedang sibuk di dapur. Padahal ia mengaku capek setelah beraktivitas seharian di kebun. Ketika ia keluar ke ruang tengah, saya bertanya sedang masak a...
Klikhijau.com – Suatu waktu di awal malam, Ibu sedang sibuk di dapur. Padahal ia mengaku capek setelah beraktivitas seharian di kebun.
Ketika ia keluar ke ruang tengah, saya bertanya sedang masak apa? Ia menjawabnya bikin sarabba.
Sarabba merupakan minuman khas Sulawesi Selatan, seperti halnya wedang uwuh yang merupakan minuman khas Jogja atau Yogyarakta.
Hal yang membuat sarabba banyak digemari adalaha cara pembuatannya yang cukup simple. Pun bahannya sangat mudah ditemukan. Selain itu, rasanya nikmat dan menyehatkan.
[irp]
Sarabba adalah minuman dengan bahan minim, hanya menggunakan jahe, gula, merah dan santan. Pun kadang ditambahkan dengan merica untuk menambah rasa pedas saja.
Biasa pula ditambahkan dengan telur ayam kampung untuk menambah cita rasa, juga susu.
Dan untuk teman yang paling pas menemani seruputan sarabba adalah pisang goreng, ubi goreng, dan sukun goreng.
Harganya pun cukup terjangkau. Jika di Makassar, kuliner sarabba yang paling terkenal terletak di jalan Sungai Cerekang, bukanya hanya pada malam hari. Sarabbba memang paling enak di seruput saat malam, saat cuaca sedang dingin.
Arief Balla, dalama bukunya Kepada Jauh yang Dekat pada halaman 131 mengungkapkan bahwa dulu masyarakat Bugis selalu meminum tuak “ballo” untuk menghangatkan tubuh. Di sisi lain, Islam melarang keras minuma tuak sebagai salah satu jenis minuman keras yang memabukkan. Kemudian munccullah minuma sarabba yang berfungsi sebagai pengahngat tubuh pengganti tuak yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam (2019)
Jika merujuk pada pendapat di atas, maka tidak heran jika sarabba biasanya dinikmati saat malam hari, apalagi saat cuaca sedang hujan.
Saya nyaris tak pernah temukan orang yang menyeruput sarabba saat matahari sedang garang-garangnya memanggang bumi.
[irp]
Pun nyaris pula tak pernah menemui penjual di pinggir jalan, khususnya di Makassar yang membuka kedainya sarabbanya di siang bolong, saat matahari terik mengeringkan.