Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menyelami 5 Puisi Beraroma Laut dari Asia Ramli Prapanca

Klikhijau.com - Asia Ramli Prapanca lahir di Desa Usuku, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara tahun 1960. Lelaki yang lebih akrab disapa Ram ini berasal dari keluarga pelaut. Ram dibe...

Oleh Tim Redaksi 05 Nov 2023 13:07 2 menit baca
Klikhijau.com - Asia Ramli Prapanca lahir di Desa Usuku, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara tahun 1960. Lelaki yang lebih akrab disapa Ram ini berasal dari keluarga pelaut. Ram dibesarkan di dalam lingkungan budaya pesisir. Ram aktif melahirkan karya berupa puisi dan teater. Keduanya tampak memiliki hubungan erat karena karya-karya teater bertolak dari puisi-puisi yang dihasilkannya. Puisi-puisi yang dihasilkan Ram banyak beraroma laut, berikut lima di antaranya yang diambil dari buku Sastra Kepuluan (Antologi) dan Aku di Sini Saja:
LAUTAN MALAM
  Seorang penyair berenang di lautan malam ditemani mimpi dan penderitaan Ditatapnya langit Bulan dan bintang karam dan tenggelam dalam kota Lautan malam Kerajaan nafsu Seorang penyair muntah di atasnya Makassar, 1994 [irp]
AKU LAUT AKU OMBAK
  Aku laut aku ombak Aku terima segala yang tumpah Bila kamu terdampar Karang istanamu Bila kamu tenggelam Kerang penyambutmu Aku laut aku ombak aku terima segala yang tumpah Bila gelombang perang dimulai Angin ribut air pasang Gemuruhku gegap gempita Menggulung musuh-musuhku Bila gelombang usai Angin sepoi-sepoi air surut Aku beroleh kemenangan Tapi perutku mengandung bangkai Aku laut aku ombak aku terima segala yang tumpah Makassar, 1987 [irp]
PENYAIR KARANG
  Karena jemarimu yang membelai rambutku di pantai pasir putih itu Maka aku selalu mengenangmu Inilah lelaki tukang mimpi itu Mampukah lepas Tapak kaki di ombak Tapak tangan di ubunmu Lepas, lepaslah! Dengan berkendaraan gelombang Kupahat janji di tebing pulau Dengan kedua kelingking Engkau tempat pijakku Sesaat Aku meloncat dari ombak ke ombak Jelajahi liku dunia Menyepi Merumuskan diri Putramu Putramu Bernama penyair Lepas pergi Dalam hujan budi Lepaslah semua Tempat dan orang-orang tercinta Tapi seluruh ilham Segala nasib terhitung Inilah lelaki Putramu Anak pulau Anak laut Anak karang Tak henti menyeret gelombang abadi ke kakimu Makassar, 1986
[irp] BATANG PISANG
  Di jembatan batu tua itu Kulepaskan batang pisang Air laut Mengalirlah Bila tiba di tengah samudera Panggillah ibuku yang hilang Menyusui adikku Panggillah pula gadisku Yang berumah di atas karang Yang tubuhnya bergaram airmata Makassar, 1989 [irp]
PEMIMPI
  Di hutan Kubayangkan diriku Perambah paling kuat Pemakan panser dan batu gunung Di laut Kubanyangkan diriku Penyelam paling dalam Pemakan kapal dan batu karang Di angkasa Kulihat nyata diriku Pemimpi paling tamak Pemakan angin dan batu akik Makassar, 1989 [irp]  
Topik terkait
#wakatobi #puisi lingkungan #puisi laut #asia ramli prapanca