Menuju Pameran “Spirit Leang-leang” 2026, Seniman Makassar Jelajahi Karya Prasejarah

oleh -47 kali dilihat
MENUJU PAMERAN "SPIRIT LEANG-LEANG TAHUN 2026, SENIMAN MAKASSAR JELAJAHI SITUS LEANG-LEANG
Seniman Makassar jelajahi situs sejarah leang-leang jelang festival "Spirit Leang-leang 2026" - Foto: Ist

Klikhijau.com – Saat tahun baru masih membawa harapan, saya bersama tiga (3) seniman Makassar memilih untuk menyelami akar sejarah seni rupa dunia melalui eksplorasi di Situs Leang-Leang Maros (4/1/2026). Dari tempat inilah jejak pertama seni rupa tercatat dan kini oleh seniman perupa disebut sebagai “titik nol seni rupa dunia”.

Dalam kegiatan tersebut, tiga orang yang berkhidmat pada seni rupa yaitu Achmad Fauzi, Alan Tola, Asman Djasmin, dan saya sendiri Wahyuddin Yunus, bersama merangkai rekan sejawat sebagai seniman, kurator, penulis, serta perjalanan riset, menghabiskan sepersekian waktu melukis bersama, berdiskusi, dan menggali inspirasi dari karya prasejarah yang mengukir kehidupan manusia purba.

Jejak Leang-Leang dalam perjalanan seni rupa Makassar sangat fundamental. Dari lukisan di gua prasejarah menunjukkan bagaimana nenek moyang kita sudah memiliki kemampuan visualisasi dan simbolisme jauh sebelum seni gua Eropa. Temuan oleh arkeolog menjadi penanda sejarah seni turut membuktikan kemampuan ekspresi artistik manusia pada masa lampau di Sulawesi Selatan.

Di antara dinding gua, seniman Asman punya pandangan, bahwa lukisan di Leang Leang tak sekadar bercerita tentang masa lalu. Kisahnya turut menafasi bagaimana seni mengalir dalam jejak kehidupan manusia masa lampau.

“Kita datang bukan hanya untuk melihat bekas masa lalu, melainkan untuk merasakan bagaimana seni telah mengalir sebagai darah kehidupan manusia sejak zaman dahulu,” ujar Asman Djasmin.

KLIK INI:  Siap-siap, Mobil Penghasil CO2 Bakal Dihapus

Melalui kegiatan jelajah situs Leang-Leang, para seniman berupaya menghadirkan karya yang terhubung dari titik asal dan akar seni rupa dunia. Seniman kontemporer ditantang untuk menciptakan karya dengan identitas seni rupa yang kaya filosofi dan makna.

Menurut Achmad Fauzi, perupa sekaligus kurator kegiatan, bahwa ini adalah kelanjutan dari serangkaian eksplorasi sebelumnya yang juga diikuti oleh nama-nama besar seniman perupa Makassar. Seperti Amrullah Syam, Ahmad Anzul, Budi Haryawan, Den Dede, Faisal Syarif, dan seniman lainnya.

Selama berada dalam kawasan situs, para seniman menciptakan karya yang coba menghubungkan dunia prasejarah dengan zaman sekarang. Dengan menyandingkan figur purba dengan ritme kehidupan masyarakat modern Makassar.

Hasil eksplorasi kali ini, nantinya akan menjadi dasar bagi pemenuan karya-karya dalam pameran tunggal secara berantai bertajuk “Spirit Leang-Leang : Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar”. Sebanyak sembilan seniman Makassar akan ikut memamerkan karyanya mulai akhir Januari hingga April 2026 di berbagai ruang publik Kota Makassar.

KLIK INI:  Pameran Tunggal "Morning View" Alan Tola: Refleksi Kontemplatif Jiwa dan Imaji Simbolik

Dalam pameran nanti menekankan konsep karya dan visi seniman dalam berkarya. Langkah ini bertujuan membangun identitas seniman melalui kolaborasi seni kontemporer dengan elemen purbakala. Ajang pameran dan diskusi karya, tidak hanya melestarikan masa lalu. Tapi turut mengangkat nilai budaya sebagai pondasi untuk terwujudnya karya dengan jati diri yng kuat.

Selain karya utama, pameran juga akan menampilkan dokumentasi proses eksplorasi dan karya dari seniman muda yang telah mengikuti bimbingan khusus tentang sejarah seni rupa di Sulawesi Selatan

Penyelenggaraan kegiatan nanti, diharapkan membuka ruang apresiasi yang dalam. Keberadaan seni rupa memberi jalan bagi masyarakat untuk menyadari bahwa seni rupa kita tak lahir dari nol—akarnya dalam, dan dari sana kita bisa membangun karya yang lebih kaya makna.

Sementara itu, Muslimin, salah seorang petugas pengelola Situs Leang-Leang dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIX, menjelaskan upaya BPKW dalam program pelestarian Situs Leang Leang yang tengah digulirkan. Diantaranya membuat pelatihan kerajinan souvenir dengan inspirasi lukisan prasejarah dan penggunaan warna alami. Namun, ia mengakui tantangan besar adalah kurangnya minat kalangan muda, yang lebih terpikat dengan gadget.

Kolaborasi dengan seniman Makassar dan rencana pameran diharapkan menjadi momentum untuk mengubah kondisi tersebut. Pihak BPK Wilayah XIX juga merencanakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk terus mengedukasi dan memperkenalkan kerajinan khas dengan tema seni prasejarah.

Berbagai langkah coba diterapkan, bukan hanya citra melestarikan masa lalu, melainkan juga mengangkat nilai budaya lokal sebagai pondasi untuk karya seni rupa Makassar yang memiliki identitas kuat dan mampu bersaing di kancah luas.

Akhirnya, situs Leang-Leang adalah fondasi artistik, sumber ide, dan inspirasi bagi tumbuh kembangnya seni rupa Makassar. Transformasi kreatif dapat mengubah situs purbakala menjadi sumber kreativitas kontemporer untuk terus digali dan dipamerkan. Tema Spirit Leang-Leang telah digulirkan dan diharapkan menjadi tema abadi seni rupa Makassar.

KLIK INI:  Mencegah Pandemi dan Menghemat Biaya dengan Cara Melindungi Satwa Liar