Menikmati Kopi dan Pameran Seni Rupa di Steya Coffee dalam Nuansa Klasik

oleh -63 kali dilihat
Steya Coffee dalam Nuansa Klasik-foto/Ist

Klikhijau.com- Sudah tiga bulan berselang, sejak periode Agustus 2025 Steya Coffee menjadi titik kumpulnya para seniman perupa Makassar. Suasana yang jauh dari kebisingan, tapi dekat dengan alunan musik jadul yang muncul dari kaset piringan hitam selalu memantik waktu.

“STEYA COFFEE” sebuah warung kopi bernuansa vintage dengan sentuhan klasik tempo dulu beralamat di Kompleks Permata Hijau Permai, Makassar, menjadi ruang pertemuan baru bagi Seniman Seni Rupa Makassar.

Berbagai ornamen lawas turut menghiasi ruang dalam dan teras, serta aroma kopi yang menguatkan suasana tradisi. Steya Coffee seolah menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu tarikan napas, menjadikan tempat ini menarik sebagai ajang pameran seni rupa dan forum bedah karya yang digelar Makassar Art Initiative Movement (MAIM).

Kegiatan pameran kali ini telah berlangsung sejak Minggu, 23 hingga 30 Nopember 2025 dengan menghadirkan sejumlah karya Seniman perupa MAIM. Tidak seperti pameran pada umumnya yang digelar di ruang galeri, atau ruang pameran lainnya, MAIM secara sengaja memindahkan panggung apresiasi ke ruang publik yang dekat dengan aktivitas warga.

KLIK INI:  Apa yang Terjadi Pada Tanaman Berbunga Jika Kekurangan Serangga Penyerbuk?

Menurut Ahmad Fauzi salah seorang anggota Makassar Art Initiative Movement (MAIM) ,konsep itu dipilih untuk membuka akses lebih luas kepada masyarakat yang selama ini mungkin saja merasa jauh dari ruang seni.

“Biasanya pameran itu berlangsung di galeri. Kali ini kami hadirkan di ruang publik agar pembahasan tentang seni bisa dijangkau siapa saja,” ujarnya.

Dalam kegiatan seperti ini suasana berlangsung cair. Pengunjung yang awalnya hanya datang menikmati kopi ikut terlibat dalam dialog, mengajukan pertanyaan, hingga memberi komentar secara spontan. Interaksi itu, bagi para perupa, menjadi bagian penting dalam membaca ulang cara publik memahami seni rupa.

KLIK INI:  Olimpiade Tokyo dan Alasan Menobatkannya sebagai Olimpiade Ramah Lingkungan

Seniman lain, Asman Djasmin melihat kegiatan ini dapat memberi sentuhan baru dalam penilaian seni dan menjadi jembatan di ruang publik.

“Melalui program ini, saya berharap ruang-ruang alternatif dapat menjadi bagian dari ekosistem seni di Makassar. Saya menilai bahwa warung kopi dan ruang publik serupa mampu menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat,” ujar Asman.

Kehadiran seniman di warung kopi membuka dialog yang egaliter di warung kopi. “Tercipta diskusi sekaligus membuka ruang dialog yang terbuka bagi semua kalangan,” pungkas Asman Djamin.

KLIK INI:  Berperan Jadi Pemulung dalam Film Pendek, Seniman Ini Menuai Banyak Pujian