Mengulik Sensasi Panorama Rammang-rammang pada Jam Sepuluh Pagi!

oleh -93 kali dilihat
Mengulik Sensasi Panorama Rammang-rammang pada Jam Sepuluh Pagi!
Suasana Rammang-rammang di siang hari - Foto: Ist
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Kapankah waktu terbaik berkunjung ke spot wisata Rammang-rammang Maros Sulawesi Selatan? Pertanyaan ini tak jarang dihaturkan para wisatawan yang baru berencana kesana untuk pertama kali.

Jawabannya tentu berbeda-beda, tergantung pengalaman masing-masing. Namun, dari beberapa orang yang pernah berkunjung lebih cenderung menjawab di awal pagi. Kira-kira antara pukul 07.00 sampai pukul 09.00 waktu setempat.

Alasannya karena sinar matahari yang belum terlampau terik di waktu yang teramat pagi. Memang benar, suasana pagi di Rammang-rammang sungguh menggoda hati. Ini adalah momen terbaik mendengarkan suara-suara hewan seperti burung dan lain-lain yang sedang merayakan pagi.

Suasana ini juga amat baik untuk mengambil gambar dengan latar bukit-bukit karst. Namun, bila kamu punya kesempatan menginap di sana, jangan lewatkan awal pagi sekira pukul 06.00 pagi. Nikmatilah udara pagi yang segar dan suasana alam alami yang menyenangkan.

Jangan khawatir yah Sahabat hijau, sebab telah tersedia penginapan dan home stay di sana dengan harga cukup terjangkau. Kamu juga bisa menginap di rumah-rumah warga di dalam kawasan kampoeng berua.

rammang-rammang
Suasana di dermaga Rammang-rammang – Foto: Ist
KLIK INI:  Taman Hutan Raya Nipa-Nipa Kendari dan Potensi Istimewa di Baliknya

Sensasinya tentu lebih menggiurkan sebab rumah-rumah panggung itu berada di tengah hamparan sawah nan hijau. Dikelilingi bukit-bukit karst indah yang seolah menjadi banteng pelindung.

Namun, bagaimana bila kamu tidak punya kesempatan berkunjung ke sana di awal pagi karena jarak yang berjauhan atau karena waktu yang terbatas?

Jangan cemas! Selagi masih bisa ke sana, manfaatkan kesempatannya tanpa berpikir panjang. Rupanya, panorama Rammang-rammang pada jam sepuluh pagi hingga pukul 12.00 siang tetap menggirukan.

Satu-satunya halangan tentu karena terik matahari yang mulai panas membakar kulit. Namun, ini bisa diantisipasi dengan memakai sunblock juga dengan memakai topi rimba. Bila lupa membawa topi, tersedia topi ala petani yang disewakan di dekat dermaga dua sekira Rp. 5000.

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak segera menyewa perahu di dermaga dua untuk menelusuri sungai sekira dua kilometer menuju kampoeng berua. Sewa perahu untuk 3-5 orang sekira Rp. 200 ribu. Kamu sudah bisa merasakan perjalanan lambat di atas perahu kecil sembari mengamati pohon nipah dan bakau yang mengitari pesisir sungai.

Pemandangan ini tentu penting pula didokumentasikan. Sangat instagramable!

KLIK INI:  Soeharto, Pembebasan Irian Barat dan Cerita di Balik Penamaan Pantai Mandala Ria

Nah, meski matahari menanjak dengan panasnya, angin sepoi-sepoi yang bertiup seolah mengimbangi teriknya. Saat cuaca sedang panas, pemandangan di langit-langit benar-benar biru berpadu warna putih bersih. Kampoeng Berua akan tampak seperti potongan surga.

Berjalanlah mengitari sawah mendekati bukit karts. Kamu juga bisa mampir di pondok-pondok kecil di tengah sawah, duduk di sana sembari menikmati alam yang memberi kedamaian hakiki.

Pada panas yang terik, ikan-ikan di dalam empang yang letaknya beririsan dengan area persawahan tampak jelas bergerak lincah. Jadi, kamu juga bisa berswafoto di sana dengan latar empang, karst, rumah-rumah panggung dan padi-padi menguning.

rammang
Padi yang menguning di Kampoeng Berua Rammang-rammang – Foto: Mila Nuh

Sekali lagi, tidak perlu cemas berkunjung ke Rammang-rammang pada jam sepuluh pagi ke atas menjelang siang, sebab tidak mengurangi panorama alamnya.

Lalu, kapan waktu terbaik lainnya berada di Rammang-rammang? Nah, waktu terbaik lainnya adalah di sore hari antara  pukul 16.00 – 17.40. Waktu sore yang tenang ini juga memungkinkan kamu menikmati panorama alamnya yang menawan tanpa harus takut terbakar matahari.

Rammang-rammang benar-benar menggoda untuk jadi opsi menikmati waktu libur. Bila sempat, kamu juga bisa mampir terlebih dahulu di rumah ke-2 milik Iwan Dento, berbincang santai dengannya sembari menikmati aroma kopi santan yang gurih.

Hari yang benar-benar menyenangkan. Sayangnya, bila air pasang di sungai, sampah-sampah plastik akan berseliweran mengepung. Ini sangat mengganggu pemandangan. Suatu pertanda betapa kita masih terbiasa membuang sampah ke sungai. Sungguh menyebalkan di sisi lain! Semoga ke depan ada solusi untuk menangani sampah di sungai agar tidak merusak biota di dalamnya dan tentu tak merusak panorama lokasi wisata.

KLIK INI:  Orang Utan, Idola Wisatawan Mancanegara di Taman Nasional Tanjung Puting