Mengerem Krisis Keanekaragaman Hayati dengan Konservasi Lahan, Bisakah?
Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati adalah hadiah istimewa dari alam kepada manusia. Ia memiliki beragam manfaat untuk menunjang keberlangsungan hidup manusia di dunia ini. Karena itu sangat pent...
Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati adalah hadiah istimewa dari alam kepada manusia. Ia memiliki beragam manfaat untuk menunjang keberlangsungan hidup manusia di dunia ini.
Karena itu sangat penting untuk menjaganya. Karena dengan menjaga keanekaragaman hayati, secara otomatis akan menjamin keseimbangan ekosistem dalam rangka pemenuhan kebutuhan kesehatan dan sumber pangan.
Hanya saja meski memiliki peran maha penting, keanekaragaman hayati tidak lepas dari ancaman krisis. Penyebabnya pun, adalah manusia—makhluk yang paling banyak menerima manfaat dari – keanekaragaman hayati.
Melihat keanekaragaman hayati semakin terpuruk, maka berbagai upaya pun dilakukan agar krisis keanekaragaman hayati bisa berhenti.
[irp]
Belum lama ini, seperti dilansir dari earth ada sebuah studi yang dipimpin oleh University of Amsterdam (UvA).
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science itu mengungkapkan bahwa peningkatan pesat dalam ruang lingkup dan efektivitas upaya konservasi global sangat penting untuk menjaga integritas ekologi planet kita.
Para ahli telah menemukan bahwa bumi memerlukan konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati , yang 44 persen dari luas daratan Bumi atau sekitar 64 juta kilometer persegi atau 24,7 juta mil persegi.
Para ahli itu menggunakan algoritme geospasial canggih untuk memetakan area optimal untuk melestarikan spesies dan ekosistem terestrial di seluruh dunia. Mereka menggunakan skenario penggunaan lahan eksplisit untuk menilai seberapa banyak lahan ini berisiko dari aktivitas antropogenik pada akhir dekade ini.
“Studi kami adalah perkiraan terbaik saat ini tentang berapa banyak lahan yang harus kita lestarikan untuk menghentikan krisis keanekaragaman hayati – ini pada dasarnya adalah rencana konservasi untuk planet ini,” jelas James Allan yang menjadi penulis utama studi tersebut.
Allan yang juga seorang ilmuwan konservasi di UVA juga mengatakan, bahwa kita harus bertindak cepat, model yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa lebih dari 1,3 juta km 2 dari tanah penting ini – area yang lebih besar dari Afrika Selatan – kemungkinan habitatnya akan dibuka untuk penggunaan manusia pada tahun 2030, yang akan menghancurkan satwa liar.
[irp]