7 Fakta Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata

oleh -36 kali dilihat
7 Fakta Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata Mamasa
Gunung Gandang Dewata - Foto/Mounture.com

Klikhijau.com – Penetapan Taman Nasional (TN) Gandang Dewata ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.773/Menlhk/Setjen/PLA.2/10/2016 tanggal 3 Oktober 2016.

Kawasan ini terletak membentang di 4 Kabupaten yakni Mamuju, Mamuju Utara, Mamuju Tengah dan Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat seluas 189.208,17 hektare.

TN Gandang Dewata berada di Gunung Gandang Dewata, satu gunung tertinggi di Sulawesi Barat atau gunung tertinggi kedua di Sulawesi setelah gunung Latimojong di Enrekang Sulawesi Selatan.

Penunjukan kawasan ini sebagai Taman Nasional tidak terlepas dari kekayaan sumber daya alam hayati dan ekosistem khas serta gejala alam yang ada di dalamnya.

Selain itu, kawasan ini diketahui memiliki kekayaan budaya berupa sejarah dan nilai-nilai lokal (local wisdom) yang sejak lama menjadi tradisi pada mayarakatnya.

Berikut ini 5 fakta mengenai keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya alam yang ada di TN Gandang Dewata Mamasa yang menarik diketahui:

KLIK INI:  Jelajah Taman Wisata Alam Sorong, 4 Aktivitas Ini Bisa Membuat Anda Lupa Pulang
  • Beberapa jenis tumbuhan dari suku Melastomateceae

Berdasarkan penelusuran yang pernah dilakukan pada 2016 oleh Tim LIPI, ditemukan adanya tumbuhan dari suku Melastomateceae dari marga Medinilla, Sonerila, Astronia, Dissochaeta, Melastoma dan Creochiton.

Bahkan ditemukan 2 jenis dari Medinilla dan Sonerila yang diduga merupakan jenis baru. Ekspedisi LIPI juga menemukan bahwa sebagian besar dari suku ini juga diketahui endemik hanya terdapat di Sulawesi.

  • Ditemukan tumbuhan dari suku Gesneriaceae

Dari kawasan TN Gandang Dewata ditemukan ada 11 jenis tumbuhan dari suku Gesneriaceae dari marga Aeschynanthus, Agalmyla dan Cyrtandra. Keseluruhan jenis dari suku ini dipastikan endemik hanya dijumpai di Sulawesi dan tidak ada di pulau lain.

Selain 3 suku tersebut, terdapat pula jenis-jenis endemik dari marga beringin (Ficus). Setidaknya terdapat 4 – 5 jenis dari marga ini dijumpai, kuat duguaan merupakan jenis yang endemik di Sulawesi.

KLIK INI:  3 dari Desa Terbersih di Dunia Ada di Indonesia, Penasaran? Klik Ini!
  • Kaya jenis paku-pakuan

Di Pegunungan Gandang Dewata ditemukan sekitar 123 jenis paku-pakuan dan kerabatnya (pteridofita) pada rentang ketinggian 1500 – 2000 mdpl. Bahkan ditemukan pula ada satu jenis endemik Sulawesi yakni paku pohon atau dalam bahasa lokal dinamai pune, dari jenis Cyathea sarasinorum.

  • Surga mamalia darat endemik Sulawesi

Pada ekspedisi yang dilakukan Tim LIPI pada 2016 ditemukan adanya mamalia darat (Ordo Rodensia dan Insektivora), Herpetofauna, burung, serangga dan Arthopoda lainnya seperti capung, lebah, binatang parasit dan kumbang kotoran beserta tungauforetiknya.

Untuk mamalia diperoleh 90 individu yang terdiri atas Famili Muridae (13 jenis teridentifikasi, 2 individu belum diketahui jenisnya dan dimungkinkan baru dengan nama lokal lewa-lewa dan kambola, Famili Sciuridae (3 genus dan jenis), Famili Soricidae (3 jenis) dan 4 jenis kelelawar (Chiroptera).

Selain 2 individu yang belum teridentifikasi tersebut, ditemukan pula satu individu tikus akar (gracilimus radix) serta beberapa spesimen Taeromys sp., yang merupakan jenis baru.

KLIK INI:  Padang Loang, Tempat Nostalgia dengan Pasukan Kahar Muzakkar
  • Kaya akan burung endemik

Dari eksplorasi LIPI mengungkap bahwa terdapat 417 jenis burung di Sulawesi dengan 116 jenis diantaranya adalah endemik. Ada 54 jenis dari 10 ordo dan 28 famili berada pada ketinggian 1500-2000 mdpl dengan tipe habitat persawahan, kebun dan hutan. Sebanyak 32 jenis (52,25 persen) merupakan burung endemik Sulawesi.

  • Ditemukan jenis katak dan reptil endemik

Dari ekspesidi Tim LIPI juga ditemukan adanya 7 jenis katak endemik Sulawesi (dua diantaranya kemungkinan adalah jenis baru). Serta ada dua diantaranya yang belum teridentifikasi berasal dari genus Limnocectes sp. dan Oreophryne sp.

Selain itu, terdapat 1 jenis kadal dari genus Sphenomorphus sp., yang kemungkinan besar adalah jenis baru.

  • Memiliki potensi ekosistem yang unik

Menurut Amir Hamidy dalam buku Gema Gandang Dewata (2018), selain berada di kawasan wallacea (bioregion), Gandang Dewata juga mewakili ekosistem pegunungan yang unik.

KLIK INI:  Di Pulau Larea-rea yang Sepi, Mahasiswa Jepang dan Unhas Lepas Tawa

Selain itu, ekosistem yang ditemukan di kawasan ini juga endemik. Vegerasi TN Gandang Dewata didominasi oleh hutan dataran rendah sebesar 90,83 persen dan lahan produktif sebesar 0,17 persen.

Fakta lainnya

Selain potensi 7 fakta keanekaragam hayati di atas, terdapat pula potensi jasa lingkungan di kawasan TN Gandang Dewata antara lain: Pendakian gunung Gandang Dewata, perkampungan tradisional dan potensi air terjun yang masih alami.

Terdapat pula situs budaya yakni Situs Kalumpang yang merupakan tempat manusia pertama di Sulawesi Selatan. Hal ini dibuktikan dengan adanya bekas-bekas kebudayaan manusia yang ditemukan pada kedalaman 180 – 290 meter.

Diperkirakan lapisan tanah ini tertimbun akibat banjir yang melanda Kalumpang 3800 tahun yang lalu. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa Kalumpang adalah pintu dari pesisir barat yang didatangi oleh ras Astronesia dan dihuni lebih dari satu abad.

KLIK INI:  Kaburnya Pesona Beberapa Pantai di Sulawesi Barat