Mengenang Sulo Cuicui, Aksi Asyik yang Tidak Recommended

Mengenang Sulo Cuicui, Aksi Asyik yang Tidak Recommended
Burung kecil-foto/Pixabay
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Di tahun 80an hingga 90an, Desa Kindang masih gulita, listrik belum masuk. Warga menggunakan pelita dari kaleng susu bekas sebagai penerang dengan bahan bakar minyak tanah (yang sekarang menghilang entah).

Saat hendak assulu cuicui, kami menggunakan obor dari bambu, menelusuri satu demi satu pohon mencari cuicui yang sedang terlelap.

Saat tidur, cuicui akan menyembunyikan kepalanya ke dalam sayapnya, cahaya dari obor tak mampu mengusik lelapnya itu.

Cara ini, menelusuri pohon ke pohon kadang tak menghasilkan tangkapan alias lari kosong. Karenanya, terkadang kami menyiasatinya, begitu jelang malam, kami akan memantau, di mana cuicui akan lerang (bertengger).

Begitu malam tiba, saat cuicui terlelap, kami akan langsung mendatanginya lalu menangkapnya.

Ada cara tersendiri menangkap cuicui saat terlelap, yakni nidopa' (mengatupkan dua telapak tangan seperti orang sedang tepuk tangan. Cara ini ampuh, cuicui akan sulit untuk lolos.

Nah, saat Ramadan, sebelum masuk salat Isya, biasanya kami memanfaat waktu berburu cuicui. Tak sedikit pula yang rela tak salat tarawih demi aktivitas sulo cuicui yang asyik itu. Kami melakukannya dengan cara berkelompok.

Bukan tanpa alasan, selain karena kami adalah anak-anak yang penakut kala malam, juga akan sulit menangkap cuicui ketika tak ada yang memegangi obor.

Di era saat Indonesia masih dinahkodai Soeharto itu, warga yang memiliki senter baterai bisa dihitung jari. Bagi anak-anak yang orang tuanya memiliki senter, wajib selalu dipanggil.

Tiga waktu favorit dan episode yang tamat

Sebenarnya sulo cuicui bisa saja dilakukan setiap malam, tapi hal itu tak kami lakukan. Kamu menunggu momen.

Seingat saya ada tiga momen yang tepat melakukan aksi ini. Pembaca boleh mencatatnya, tapi tolong jangan dipraktikkan, sebab dapat merusak keseimbangan ekosistem dan merampas hak hidup makhluk yang bernama cuicui.

Bulan Ramadan menjadi waktu paling sering digunakan sulo cuicui. Di bulan suci itu, malam akan ramai. Dan konon setan dipenjara. Namun, kami jadi “setan” kecil yang mengusik lelap makhluk lain.

Sebelum salat Isya, biasanya kami para anak-anak berkeliaran di kebun cengkeh sekitar rumah membawa obor, memeriksa setiap ranting pohon cengkeh. Begitu melihat ada burung yang bertengger, akan segera nidopa’.

Saat berhasil menangkapnya, kami akan bersuka cita. Terkadang membawanya ke masjid untuk dipamerkan.

Momen kedua saat ada pesta, suasana malam juga ramai. Banyak orang akan tidur lebih larut. Momen itu akan kami manfaatkan mencari cuicui.

Dan momen ketiga, saat musim hujan. Pada saat itu cuicui akan bertengger di ranting cengkeh yang lebih rendah. Berbeda ketika tak hujan, kadang bertengger lebih tinggi sehingga sulit dijangkau.

Cuicui yang berhasil kami tangkap, ada yang memakannya dengan cara dibakar atau digoreng, ada pula yang dilepaskan kembali dengan suka rela. Cuicui yang ditangkap ketika telah besar akan sulit hidup dalam sangkar.

Saat ini aksi sulo cuicui mulai menghilang. Tak ada lagi anak-anak yang tertarik untuk melakukannya.  Anak-anak lebih suka bermain game digawainya. Dan itu menjadi kabar baik bagi cuicui.

Dan semoga tak ada lagi aktivitas yang namanya sulo cuicui ke depannya, meski asyik, aksi ini tidak recommended. Biarkan burung-burung kecil itu menikmati tidurnya dengan nyaman. Tanpa usikan.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi