Mengenang Kopi-Kopi, Kegembiraan Pasca Panen Kopi

Klikhijau.com – Hujan memang lihai mengantar banyak kenangan ke ingatan. Semisal hari Jumat ini, selepas Jumatan, hujan tiba. Tidak deras, tapi cukup ampuh menggali tiap inci kenangan. Hujan yang tak...

Mengenang Kopi-Kopi, Kegembiraan Pasca Panen Kopi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

‎‎Kopi-kopi adalah istilah yang digunakan saat mencari buah kopi yang tak terpetik saat panen. Buah kopi yang tersisa itu, akan dipanjat agar bisa dipetik. Umumnya pakopi-kopi tidak membawa pakkai', yang mereka bawa hanya tempat menampung kopi. Biasanya adalah sarung yang sudah lusuh. Tak terpakai lagi untuk digunakan tidur atau salat atau bepergian.

‎‎Aktivitas kopi-kopi bukan tanpa risiko, sebaliknya, risikonya cukup banyak. Risiko jatuh dari pohon kopi hanyalah salah satunya. Sebab batang kopi terkadang harus dipanjat, lalu menggelantungkan diri. Sehingga kopi bisa doddo (ujungnya menyentuh tanah) agar buahnya bisa dipetik. Pada saat itulah, batang kopi bisa saja patah dan membahayakan pelaku kopi-kopi.

‎‎Risiko lainnya, saat yang punya kebun datang dan tak terima kopinya jadi sasaran tempat kopi-kopi. Pelaku bisa kena marah atau bahkan diburu. Namun, di balik risiko itu, ada keseruan tak terbahasakan saat melakukan kopi-kopi. Itu seperti mencari uang sambil bermain bergelantungan di pohon kopi. Meski kopi yang akan dipetik tak seberapa. Hanya beberapa biji saja.

‎‎Namun, saat ditukar dengan kerupuk atau jajanan lain atau dengan semangkuk sup ala kadarnya. Rasa takut dan ngeri akan hilang. Dan besoknya, pelaku akan kembali melanjutkan aktivitasnya.

‎‎Pelaku kopi-kopi ini didominasi oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Mereka tak bergerak sendiri, tapi berkelompok. Sehingga keseruannya lebih matang.

Saat ini, kopi mere merosot. Ruangnya berganti pohon cengkeh dan aktivitas kopi-kopi pun meredup. Panen kopi juga cenderung sepi. Pun jika kopi mere masih sebanyak dan seluas dulu, sangat mungkin anak-anak sekarang akan berpikir untuk melakukannya, mereka akan lebih memilih main game di gawainya sambil menjulurkan tangan meminta pembeli kuota kepada orang tuanya.

‎‎Dan satu hal yang perlu diingat dan dicermati, satu spesies tanaman berkurang atau berganti, maka satu budaya atau kebiasaan juga terancam hilang. Kopi-kopi adalah salah satunya, yang abadi dai kopi-kopi saat ini adalah kenangannya dan itu mengepung saya saat hujan seusai salat Jumat hari ini.

Agar kenangan atau ingatan kopi-kopi tak hilang dalam deru suara game, saya mencoba menuliskannya di sini, sebagai ruang nostalgia yang bisa ditengok-tengok saat hujan tiba membawa banyak kenangan untuk dikenang.

‎Kindang, Jumat, 1 Mei 2026

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2