Menavigasi Era TUNA: Memacu Nilai Ekonomi Petani Hutan Lewat Transformasi Peran Penyuluh

Klikhijau.com - Dinamika perubahan iklim yang kian tak menentu dan kompleksitas kebijakan tata kelola hutan, peran penyuluh kehutanan kini dituntut tidak sekadar menjadi penyambung lidah pemerintah. M...

Menavigasi Era TUNA: Memacu Nilai Ekonomi Petani Hutan Lewat Transformasi Peran Penyuluh
Bacakan Artikel

Salah satu contoh sukses yang disebutkannya adalah produksi Gula Semut dari kawasan Bantimurung.

"Produk gula semut dari KTH kita sudah bisa masuk ke hotel-hotel. Jadi, kalau Anda menginap di hotel dan menemukan gula merah atau gula semut, itu adalah buah karya petani hutan kita," ungkapnya dengan bangga.

Ia berharap melalui Temu Karya ini, produk-produk KTH lainnya dapat menyusul untuk go public bahkan menembus pasar internasional. Saat ini, beberapa produk KTH binaan bahkan sudah ada yang berhasil menembus pasar lebih luas. Tantangannya ke depan adalah bagaimana menjajaki pasar yang lebih luas sehingga produk lokal ini terus berkembang.

Teknologi dan Kolaborasi Pentahelix

Di era digital, manualitas adalah masa lalu. Kamaruddin mewajibkan para penyuluh untuk meningkatkan kapasitas di bidang teknologi. Penggunaan data digital dan platform komunikasi dianggap krusial agar pembinaan terhadap KTH berjalan efisien dan berbasis data (data-driven).

Hal senada juga ditekankan oleh Indra Exploitasia. Ia mendorong penerapan pendekatan Pentahelix, di mana pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media bersinergi. Penyuluh kehutanan tidak boleh bekerja dalam sekat-sekat sempit.

"Sudah tidak berlaku lagi ego sektoral. Penyuluh di daerah, penyuluh di KSDA, atau penyuluh di lingkup pemerintah daerah harus berkolaborasi. Bahkan kita harus bersinergi dengan penyuluh pertanian serta kelautan dan perikanan," kata Indra.

Ia juga mengajak para penyuluh untuk membuka diri terhadap data dan informasi dari Non-Governmental Organization (NGO) atau LSM.

Lebih jauh ia mengajak untuk bersama-sama dengan pertemuan ini, dengan pertemuan dengan para NGO. "Kita berbagi data, kita berbagi pengalaman, kita berbagi informasi. Karena para NGO juga mempunyai data dan informasi yang sangat lengkap, yang juga mungkin kita tidak mempunyai pengetahuan terhadap data informasi tersebut

"Para NGO seringkali memiliki data lapangan yang sangat lengkap. Mari berbagi data, berbagi pengalaman, karena kita tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga ekosistem yang kompleks ini," seru Indra.

Inovasi Sustainable Financing

Salah satu poin krusial yang dilemparkan dalam pertemuan ini adalah konsep Sustainable Financing atau mekanisme pendanaan berkelanjutan. Selama ini, hutan sering dianggap sebagai cost center, sebuah kawasan yang hanya menyerap biaya pengelolaan tanpa memberikan keuntungan finansial secara mandiri untuk pemeliharaannya.

Ke depan, BPPSDM mewajibkan setiap Kepala Balai untuk melahirkan minimal satu inovasi atau kebaruan (novelty) yang mengarah pada kemandirian pendanaan hutan.

"Kita ingin hutan mampu membiayai dirinya sendiri. Melalui model bisnis baru dan benefit sharing, pengelolaan hutan berbasis tapak harus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pengelolanya dan masyarakat luas," jelas Indra.

Selain aspek ekonomi, penyuluh juga dibekali kemampuan early warning system (sistem peringatan dini) dalam pengendalian kebakaran hutan. Meskipun teknologi seperti SIPONGI sudah tersedia, penyuluh diharapkan memiliki kearifan untuk "membaca alam" dan gejala-gejala lapangan sebagai deteksi dini, berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB.

Membangun Platform Komunikasi Digital

Menutup rangkaian arahan, Indra Exploitasia menitipkan pesan kepada Kamaruddin untuk menciptakan output yang konkret pasca-kegiatan, yakni pembangunan Sistem Platform Komunikasi Digital.

Platform ini bertujuan agar jejaring yang telah terbangun antara penyuluh, NGO, dan akademisi dalam ruangan Temu Karya tidak hilang begitu saja saat acara usai. Platform ini harus mampu mengikat koordinasi secara personal maupun institusional, sehingga meskipun terjadi rotasi jabatan, sistem komunikasi tetap berjalan stabil.

"Kita tidak ingin ketika pimpinan pindah tugas, komunikasi jadi hilang. Harus ada platform digital yang mampu mengikat kita semua untuk terus berkolaborasi di luar ruangan ini," pungkasnya.

Transformasi Menuju Ketahanan Ekosistem

Temu Karya ini menjadi momentum krusial bagi penyuluh kehutanan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk mereposisi peran mereka. Dari sekadar pegawai administratif menjadi dinamisator pembangunan di tingkat tapak.

Dengan penguatan pada aspek Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) dan kapasitas adaptasi di era TUNA, diharapkan visi besar Kementerian Kehutanan dapat terwujud: Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera.

Transformasi ini memang tidak mudah, namun dengan empati, keberanian, dan penguasaan teknologi, penyuluh kehutanan optimis mampu membawa masyarakat hutan tidak lagi bergantung secara ekstraktif pada hutan, melainkan hidup harmonis melalui diversifikasi mata pencaharian seperti agroforestry, silvopasture, dan pemanfaatan jasa lingkungan yang berkelanjutan.

Gema dari Hotel Harper Makassar ini diharapkan sampai ke tiap jengkal kawasan hutan di pelosok Sulawesi, membawa kabar bahwa para penyuluh siap menjadi jembatan menuju masa depan hijau yang lebih cerah.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2