Memutus Rantai Ketergantungan Indonesia pada Impor Alat Kesehatan

Klikhijau.com – Indonesia masih tergantung pada impor alat kesehatan dan bahan baku obat dari berbagai Negara hingga angka fantastis yakni 90 persen. Demikian komentar tajam Kepala Badan Koordinasi Pe...

Memutus Rantai Ketergantungan Indonesia pada Impor Alat Kesehatan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Indonesia masih tergantung pada impor alat kesehatan dan bahan baku obat dari berbagai Negara hingga angka fantastis yakni 90 persen. Demikian komentar tajam Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKKPM), Bahlil Lahadalia.

Bisa dibayangkan, betapa kita telah menjadi bangsa pembeli dan bergantung dari bangsa lain. Kita adalah konsumen raksasa atau pembeli turun-temurun dari industri Alat Kesehatan (Alkes) dari luar Negeri.

Menariknya, Bahlil Lahadalia menggelitik kita bahwa kondisi ini sengaja diciptakan. Wah! Sebagai pengusaha, Bahlil tentu memiliki pengalaman dalam bisnis impor Alkes.

Pernyataan ini sejatinya dapat menjadi pembuka kotak pandora "bisnis hitam" impor Alkes yang notabene membuat negeri yang besar ini tidak memiliki kemerdekaan menciptakan "security Health" secara mandiri.

Potensi Dalam Negeri

Saya jadi teringat, pandangan seorang dokter gigi dari Makassar. Namanya, drg.Abdullah HD.Lasari, selain sebagai dokter dia hingga kini memiliki kegelisahan hal tentang teknologi dan alat praktek dokter gigi yang kian mahal itu.

Baginya semua teknologi alat kesehatan yang kita impor hari ini sejatinya dapat kita produksi sendiri. Kata beliau, semua bisa diimajinasikan, ditemukan, diteliti dan diciptakan.

Bahkan teknologi digital bisa diciptakan untuk memangkas peran tangan manusia dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Kita dapat mendapatkan duplikat rongga mulut dan gigi geligi seseorang dengan teknologi digital berupa scanner intra oral.

Kisah terakhir yang saya dengar, drg.Abdullah mampu menciptakan mesin injeksi "Flexy Denture" - sejenis alat untuk laboratorium dental yang berfungsi sebagai mesin pembuat gigi tiruan. Alat jenis yang sama jika kita impor dari Eropa sudah pasti dijual dengan harga hingga ratusan juta rupiah.

Inovasi serupa dilakukan drg.Dhanni Gustiana yang pada tahun 2012, pernah membuat modifikasi pembuatan Handpiece (alat untuk mengebor gigi) yang ketika alat tersebut berfungsi dapat mengeluarkan bunyi musik tertentu.

Alat tersebut dapat mengurangi rasa cemas pasien terutama pasien anak-anak jika berobat ke dokter gigi. Suara musik tersebut diyakini dapat mengubah persepsi rasa cemas menjadi kondisi lebih rileks ketika pasien sementara perawatan gigi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2