Riuh Rindu
kita berkejaran ke laut yang menepi di matamu. ada perahu tertambat di sana. tunggui ombak pasang lalu berlayar ke dalam diri jadi gemuruh
gemuruh adalah guru bagi nelayan. me...
Riuh Rindu
kita berkejaran ke
laut yang menepi di matamu. ada perahu tertambat di sana. tunggui
ombak pasang lalu berlayar ke dalam diri jadi gemuruh
gemuruh adalah guru bagi
nelayan. menuntun mereka menerka antara cahaya atau bahaya
bahaya selalu jadi kawan bagi pelayaran. tanak dalam dada jadi doa panjang kepulangan
kepulangan ke pelukmu, rindu paling riuh. bawa sisa napas ke dalam ombak lautmu
lautmu, nyanyian cinta sejati antara kunang-kunang dan malam pekat. memanggil-manggil penuh gigih, menepi ke matamu. di sanalah rindu tumbuh berimbun berumah di matamu, takdir cinta tak menua
menualah kita dalam amuk rindu, pada rentang peluk yang menolak dingin. selalu ingin
ingin ini, rumah bagi
tualang untuk pulang sebagai tulang punggung
Bulukumba, Juli 2024
[irp]
Berlomba dengan Lebah
lebah datang berdengung di telingamu. mencipta peta pulang di kepalamu. saat kau petiki cengkeh yang bermekaran di pucuknya.
kau tepis dengan tangan lebah itu. sambil menelan liur. membayangkan manisnya madu bercampur kuning telur ayam kampung dan sedikit merica
di pucuk cengkeh, kau juga bayangkan kelambu baru berwarna siang hari. di mana malam-malam dilipat dalam sibuk
lebah semakin banyak ingin memanen nektar dari buah cengkeh. kau semakin terusik. ingin teriak memanggil naga, semburkan api
kau dan lebah berlomba memanen, kau ingin memanen buah cengkeh bermekaran itu. lebah hendak memanen nektarnya yang akan jadi madu
madu yang kau akan nikmati dengan sebutir kuning telur ayam kampung dan sedikit merica agar bisa pulas dalam kelambu berwarna siang hari
Sep, 2024
[irp]
Memburu Burung di Kepala
seekor burung bertengger di kepalamu. menyimpan kotorannya pada rambutmu yang baru keramas.
busa shampo dari kepalamu mengalir ke selokan depan rumah. di mana
jakka-jakka bergerak terus tanpa takut lelah dan kehilangan kakinya
burung yang memberaki kepalamu itu, kau tangkap di
hutan lindung di ujung kampung. kau rawat serupa merawat matamu agar tetap bisa bedakan, mana burung jantan dan mana betina
burung itu kau jinakkan dengan sebiji pisang. kau biarkan bermain pada tubuhmu, naik ke kepalamu lalu memberakinya. kau tak marah, menganggapnya lucu dan penurut
kelucuan burung itu, mengantarkan banyak pemuda ingin memelihara burung. Mereka memburunya ke dalam hutan lindung, ke dalam kepalanya, pada kehidupan
kini di setiap kepala, burung berkicau riang. kepala jadi
belantara, burung-burung berumah di sana.
Sep 2024
[irp]