Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Membaca Sederet Puisi Berdiksi Burung dari Si Burung Merak

Klikhijau.com – Jika ditelisik lebih dalam, kita akan menemukan banyak puisi WS. Rendra yang berdiksi alam. Bagi lelaki bernama lengkap Dr. (H.C.) Willibrordus Surendra Broto Rendra itu, alam telah me...

Oleh Tim Redaksi 25 Sep 2022 01:43 4 menit baca
Klikhijau.com – Jika ditelisik lebih dalam, kita akan menemukan banyak puisi WS. Rendra yang berdiksi alam. Bagi lelaki bernama lengkap Dr. (H.C.) Willibrordus Surendra Broto Rendra itu, alam telah menjadi ruang inspirasi tanpa batas. Lelaki yang lahir pada 7 November 1935 dan wafat tangga 6 Agustus 2009 itu. Dalam beberapa puisinya ditemukan senang menggunakan diksi burung. Penggunaan diksi burung atau kata burung, sesuai dengan gelarnya, Si Burung Merak. Rendra merupakan  dramawan, penyair, pemeran dan sutradara teater kebanggaan Indonesia. Berikut ini, sederet puisi berdiksi burung dari Si Burung Merak: [irp]

Sajak Orang Lapar

  kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam jutaan burung-burung gagak bagai awan yang hitam o Allah ! burung gagak menakutkan dan kelaparan adalah burung gagak selalu menakutkan kelaparan adalah pemberontakan adalah penggerak gaib dari pisau-pisau pembunuhan yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin kelaparan adalah batu-batu karang di bawah wajah laut yang tidur adalah mata air penipuan adalah pengkhianatan kehormatan seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu melihat bagaimana tangannya sendiri meletakkan kehormatannya di tanah karena kelaparan kelaparan adalah iblis kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran o Allah ! kelaparan adalah tangan-tangan hitam yang memasukkan segenggam tawas ke dalam perut para miskin o Allah ! kami berlutut mata kami adalah mata Mu ini juga mulut Mu ini juga hati Mu dan ini juga perut Mu perut Mu lapar, ya Allah perut Mu menggenggam tawas dan pecahan-pecahan gelas kaca o Allah ! betapa indahnya sepiring nasi panas semangkuk sop dan segelas kopi hitam o Allah ! kelaparan adalah burung gagak jutaan burung gagak bagai awan yang hitam menghalang pandangku ke sorga Mu. [irp]

Sajak Rajawali

  sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri rajawali adalah pacar langit dan di dalam sangkar besi rajawali merasa pasti bahwa langit akan selalu menanti langit tanpa rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma tujuh langit, tujuh rajawali tujuh cakrawala, tujuh pengembara rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari tanpa kemantapan hati rajawali mata kita hanya melihat matamorgana rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia dan ia akan mematuk kedua matamu wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka. [irp]

Sajak Burung-Burung Kondor

  Angin gunung turun merembes ke hutan, lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas, dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau. Kemudian hatinya pilu melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh yang terpacak di atas tanah gembur namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya. Para tani – buruh bekerja, berumah di gubug-gubug tanpa jendela, menanam bibit di tanah yang subur, memanen hasil yang berlimpah dan makmur namun hidup mereka sendiri sengsara. Mereka memanen untuk tuan tanah yang mempunyai istana indah. Keringat mereka menjadi emas yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa. Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan, para ahli ekonomi membetulkan letak dasi, dan menjawab dengan mengirim kondom. Penderitaan mengalir dari parit-parit wajah rakyatku. Dari pagi sampai sore, rakyat negeriku bergerak dengan lunglai, menggapai-gapai, menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, di dalam usaha tak menentu. Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah, dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai, dan sukmanya berubah menjadi burung kondor. Beribu-ribu burung kondor, berjuta-juta burung kondor, bergerak menuju ke gunung tinggi, dan disana mendapat hiburan dari sepi. Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati. Burung-burung kondor menjerit. Di dalam marah menjerit, bergema di tempat-tempat yang sepi. Burung-burung kondor menjerit di batu-batu gunung menjerit bergema di tempat-tempat yang sepi Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu, mematuki batu-batu, mematuki udara, dan di kota orang-orang bersiap menembaknya. [irp]

Burung Hitam

Burung hitam manis dari hatiku Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu Burung hitam adalah buah pohonan Burung hitam di dada adalah bebungaan Ia minum pada kali yang disayang Ia tidur di daunan bergoyang Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam Burung hitam adalah cintaku yang terpendam [irp]

Dua Burung

  Adalah dua burung bersama membuat sarang Kami berdua serupa burung terbang tanpa sarang Sagan, 1958 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #burung #puisi ws rendra #si burung merak #diksi alam