Melihat Kesiapan Warga Kota Makassar Memilah Sampah dari Rumah

Melihat Kesiapan Warga Kota Makassar Memilah Sampah dari Rumah
Abel, Pekerja pengangkut sampah yang menggunakan kendaraan roda tiga, melakukan pemilahan mandiri setelah menjemput dari rumah ke rumah di kelurahan Maradekaya Selatan, Kecamatan Makassar. - (Foto: Nur Adriani/Klikhijau.com)
Bacakan Artikel
Nur Adriani

Mahasiswa Magang dari Prodi Sosiologi Universitas Negeri Makassar

"Kalau warga tidak memilah tetap saya ambil, kita pilah secara manual seperti ini selama satu jam, sebenarnya tidak apa kalau saya harus memilah mandiri, cuman kadang yang berat itu, ini," kata Abel sambil menunjuk pinggang nya

Menurutnya, pendekatan ke warga itu sangat penting. Abel mengaku sering memberikan langsung contoh kepada warga tata cara pemilahan dan jenis sampah yang seharusnya dipilah dan tidak dicampur.

"Hal seperti ini harus dilakukan dengan lembut, kalau kita lembut mengajarkan ataupun memberitahukan , pasti warga akan tersentuh sendiri," tambahnya.

Dari pengalaman abel, ada perubahan pada warga setelah diberikan pemahaman secara langsung, ia memperkirakan sekitar 80 persen warga wilayah kelurahan Maradekaya Selatan sudah mulai memilah, walaupun belum sepenuhnya maksimal.

Memilah Sampah, Memastikan Skema Pengangkutan

Permasalahan pemilahan sampah tidak berhenti disini pada kesiapan warga, Aya perempuan 28 tahun, melihat kebijakan baru ini pasti berdampak pada pemulung yang kehidupannya dan penghasilan kesehariannya itu bergntung pada sampah, dari sampah anorganik seperti botol dan kardus.

Katanya jika sampah anorganik tidak lagi masuk ke TPA karena sudah dipilah sejak dari rumayh, maka akan semakin sulit bagi pemulung mendapatkan barang yang dapat di jual.

"Warga sekitar TPA pasti sudah jarang mendapatkan sampah botol,kardus dan sebaginya, karena sekira sampah residu ji saja yang bisa masuk," pungkas Aya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: