Masyarakat Adat Sudah Menerapkan Ekonomi Hijau Sejak Dulu

Klikhijau.com - Ekonomi hijau menjadi perbincangan yang sedang hangat. Ia dianggap  sebagai salah satu gerbang untuk mencapaian pembangunan berkelanjutan. Hanya saja istilah pertanian berkelanjutan...

Masyarakat Adat Sudah Menerapkan Ekonomi Hijau Sejak Dulu
Bacakan Artikel

"Pengalaman masyarakat adat dalam mengelola alam seharusnya menjadi renungan dalam mengajarkan dunia bahwa kunci dari ekonomi hijau adalah ketidakserakahan dan keseimbangan alam yang terjaga,” ujarnya.

Pertanian berkelanjutan sering dikaitkan dengan arah perubahan teknologi dan kelembagaan. Dalam pandangannya, dari sudut pandang sosiolog, teknologi adalah kendaraan kapitalisme.

"Sesungguhnya secara tidak langsung, Indonesia turut didorong kelembagaan tersebut menjadi pasar mereka sehingga menggerus kelembagaan yang sudah dimiliki," ungkapnya.

Di samping itu, lanjutnya, Indonesia dipaksa untuk menjadi sumber pangan dunia ketika sesungguhnya kelembagaan tersebut melakukan aspek-aspek lain.

“Saya melihat ada kuasa pengetahuan dan kuasa kepentingan dunia yang dipaksakan kepada kita. Istilah sustainable agriculture development tidak melulu menjadi sesuatu yang netral tapi ada misi yang mereka pegang,” katanya.

Menjawab kebutuhan manusia

Lebih lanjut, menurut dia, Indonesia terpaksa menjadi negara sumber pangan dunia padahal lembaga tersebut justru melakukan hal lain.

“Teknologi pertanian berkelanjutan seharusnya tidak bisa diseragamkan secara global. Setiap negara pasti memiliki local knowledge yang melibatkan masyarakat adat dan sudah memiliki sejarah panjang. Teknologi yang telah dikembangkan oleh masyarakat ratusan tahun sebenarnya sudah dapat mendukung pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dia menambahkan, konsep modern tidak hanya menggunakan teknologi canggih, tetapi makna modern dapat menjawab kebutuhan manusia.

Teknik bertani lokal yang mungkin dianggap “kuno” sebenarnya modern dan lebih efisien. Teknologi tidak perlu dikotomi, teknologi modern sebenarnya bisa dimaknai berbeda di setiap daerah.

“Teknologi pada masanya dan filosofisnya (bersifat) sepanjang masa, apa yang sustainable apa yang cocok dalam konteks waktu itulah teknologi. Jadi kita harus melihat teknologi dengan perkembangan masyarakatnya,” tambahnya.

Menurutnya, setiap komponen teknologi pertanian yang dikembangkan masyarakat setempat memiliki nilai spiritual dan filosofis yang tinggi, tidak hanya fungsional dan mekanis. Teknologi ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, dan ternyata tahan lama dan lebih berkelanjutan.

“Untuk menguatkan keberjalinan local knowledge dengan pertanian yang berkelanjutan tentu terdapat beberapa instrumen yang harus dimiiliki. Di antaranya harus memiliki ideologi guna membangun kesadaran dan kemandirian, politik yang berpihak pada desa, ekonomi yang berpihak kepada masyarakat desa, pendidikan yang mendorong kemandirian dan inovasi beridkari, dan praktik melalui insentif yang jelas,” tutupnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2