Makassar Menuju Kota Dunia, Kota Macet atau Kota Berpolusi Udara Tertinggi?

Klikhijau.com – “Kita lewat sini saja,” kata driver ojek online yang mengantar saya ke Jalan Sukaria di suatu sore. Ia menunggu dengan gelisah lampu hijau menyala di depan gedung Dewan Perwakilan Raky...

Makassar Menuju Kota Dunia, Kota Macet atau Kota Berpolusi Udara Tertinggi?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Katanya lagi, seperti yang dimuat tribuntimur.com di situsnya, Senin, 26 Februari 2018 lalu, paradigma penyelesaian masalah kemacetan lalu-lintas yang melulu secara enjiniring dengan menambah kapasitas jalan baik berupa pelebaran jalan, jalan baru, flyover, underway, di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar terbukti hanya mampu menyelesaikan masalah secara parsial dan dalam waktu menengah, 5 – 10 tahun.

Menurut Kantor Statistik Kota Makassar, rasio pertambahan jumlah kendaraan bermotor 27.4% di kota Makassar, dari tahun 2011 sebanyak 976,004 unit menjadi 1,338,738 unit pada tahun 2015 dan hingga Oktober 2018, kendaraan mencapai 1.563.608 unit. Pertumbuhan kendaraan di Makassar juga naik hingga 5 persen. Itu artinya polusi udara juga semakin meningkat.

Data tersebut baru data kendaraan yang berada di Makassar, belum kendaraan dari Maros dan Gowa yang menyambangi Makassar setiap hari. Tak bisa dipungkiri jika masyarakat Maros dan Gowa banyak beraktivitas di Makassar, entah bekerja, belanja atau sekadar jalan-jalan.

Kepadatan kendaraan tersebut tak diimbangi dengan rasio pertambahan panjang jalan yang hanya 5.3% dari tahun 2011 sebanyak 1.578,33 km menjadi 1.647.01 km pada tahun 2015 dan. Selain itu, jumlah, frekuensi pengguna transportasi umum sangat kecil. Hal ini menyebabkan penggunaan kendaraan prabadi  menjadi pilihan utama.

Padahal menurut pendapat pakar transportasi Enrique Penalosa, mantan Wali Kota Bogota, Colombia bahwa “Rusaknya kualitas kehidupan kota-kota modern terutama disebabkan oleh usaha untuk semakin memberikan ruang bagi kendaraan pribadi. Padahal kota yang layak huni dan ekologis bukan hanya masyarakat miskin yang mempunyai akses dan kemudahan menggunakan sarana angkutan umum massal (SAUM), tetapi juga masyarakat kaya pun senang menggunakannya.”

Jika masyarakat Makassar beralih menggunakan angkutan umum, semisal menggunakan pete-pete, kemungkinannya macet akan sedikit teratasi, pun pemerintah harus membatasi jumlah kendaraan dan kemudahan masyarakat membelinya. Jika tidak, bisa jadi Makassar bukan menuju kota dunia, tapi menuju kota berpolusi tertinggi dunia. hemm

Atau  suka atau tak suka, kemacetan telah menjadi “gaya hidup” warga kota. Sebagian  kerap mengeluhkannya seperti driver ojek yang mengantar saya ke Sukaria, sebagian menerimanya sebagai nasib sial, sehingga harus menyesuaikan jadwal aktivitas untuk menghindari macet, meski sering gagal. Sebab kini macet tak lagi mengenal waktu dan tempat.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2