Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’

Klikhijau.com – ‘Before The Flood’ merupakan film dokumenter yang menampilkan dampak krisis dan perubahan iklim dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Diterjemahkan ke dalam 45 bahasa, film i...

Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – ‘Before The Flood’ merupakan film dokumenter yang menampilkan dampak krisis dan perubahan iklim dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Diterjemahkan ke dalam 45 bahasa, film ini juga diputar di beberapa platform termasuk National Geographic Channel sebagai bagian dari komitmen mereka.

Diproduksi selama tiga tahun, dokumenter ini bercerita mengenai perjalanan ke berbagai sudut bumi bersama dengan Leonardo DiCaprio yang saat itu diangkat sebagai Duta Perdamaian PBB.

Perubahan iklim yang terlihat sepele ternyata membawa impact yang signifikan bagi kehidupan semua makhluk di bumi dan harus segera ditangani. Penggunaan lahan untuk pertambangan, pembakaran hutan, dan lainnya menjadi penyebab perubahan iklim terjadi.

Pada film tersebut dikatakan, sebanyak 97 persen ilmuwan iklim setuju bahwa saat ini pemanasan global dan perubahan iklim diakibatkan pembakaran fosil dan aktivitas manusia.

Namun, fakta ini mendapat perlawanan dari elite politik yang memiliki kepentingan pribadi melalui kampanye disinformasi besar-besaran. Para pengusaha yang melakukan pembakaran fosil menentang isu krisis iklim untuk menyelamatkan usaha mereka.

Meski telah dirilis pada Oktober 2016, Before The Flood masih relevan dengan krisis iklim di dunia. Di dalam film diceritakan, jika iklim bersuhu sama seperti satu dekade terakhir, Greenland akan lenyap. Selain itu, saat ini terdapat kurang lebih 9.000 pabrik di Cina.

Sementara di India, terdapat sekitar 300 juta orang atau 30 persen rumah tangga yang belum memiliki akses listrik dan energi atau setara dengan populasi di Amerika Serikat.

Saat ini terdapat tiga area hutan hujan besar yang tersisa di dunia yakni hutan Amazon di Amerika Utara, Congo Bosin di Afrika, dan hutan hujan Asia Tenggara yang terbentang di Indonesia.

Namun, di Indonesia api dengan sengaja disulut untuk membuka perkebunan kelapa sawit yang memproduksi minyak sayur paling murah di dunia. Komoditas sangat murah membuat perusahaan mendapat untung besar.

Indonesia sendiri merupakan tempat terakhir di bumi yang masih memiliki gajah, badak, orang utan, dan harimau yang hidup bersama di alam liar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2