Klikhijau.com - Sepulang dari kebun memanen tire (Porang) beberapa hari lalu. Saat keringat masih mengucur. Saya menuju dapur. Menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya. Rasa haus telah sangat...
Klikhijau.com - Sepulang dari
kebun memanen
tire (Porang) beberapa hari lalu. Saat keringat masih mengucur. Saya menuju dapur. Menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya. Rasa haus telah sangat manja di tenggorokan. Harus segera diatasi.
Segelas air putih itu, tak sepenuhnya mengusir rasa haus saya. Saya lalu menyalakan kompor, menjerang air. Setelah hampir mendidih, saya menuang
kopi ke dalam gelas plastik berwarna yang tingginya hampir sejengkal. Bubuk kopinya tak banyak, seadanya saja.
Begitu air mendidih, saya tuang ke dalam gelas plastik berwarna hijau itu. Bubuk kopi basah dan air berubah menjadi agak kehitaman. Warnanya tak pekat. Itu namanya kopi lahi.
Jika di kepala kamu seduhan kopi itu harus pahit (jika tanpa gula atau susu), maka pikiran itu buang saujana.
Kopi lahi tak berada di sana, ia berdiri sendiri.
Kopi lahi adalah yang bukan kopi jika pikiranmu seduhan kopi itu pasti pahit.
[irp]
Kopi lahi justru sebaliknya, rasanya hampir hambar. Pahitnya sangat tipis, nyaris tak terasa. Seduhan kopi jenis ini, rasanya memang paling pas dinikmati siang hari sepulang dari kebun, saat haus memejamkan dirinya di tenggorokan.
Kopi lahi adalah jenis seduhan kopi dengan bubuk kopi seadanya, asalkan warna air dari bening bisa berubah kehitaman. Seduhan kopi jenis ini adalah kebalikan dari
kopi santung, yang pekat dan pahitnya tak bisa ditawar.
Kopi lahi tak sekadar minuman penghilang dahaga yang pahitnya tak menghakimi, tapi juga adalah pengingat masa lalu. Setidaknya begitulah perannya bagi saya.
Jendela kenangan
Ketika kelas tiga SMA di Kota Bulukumba, saya pindah tempat tinggal, dari Jalan Lanto daeng Pasewang ke Jalan Durian. Pada sebuah rumah yang hanya dihuni oleh anak-anak sekolah dari kampung. Di rumah berlantai “hampir” tanah itu terdapat satu sumur.
Sumur yang dalamnya sekitar 3 meter itu menjadi satu-satunya sumber air di rumah tersebut. airnya dipakai mandi, mencuci, hingga jadi
air minum.
[irp]
Air sumur galian memiliki rasa dan bau yang aneh saat diminum, meski telah dimasak hingga mendidih. Nah, untuk menghilangkan bau dan rasanya yang aneh setelah dimasak, maka kami akan menuangkan ke dalam wadah yang telah diisi bubuk kopi atau kalau kami lupa memberi wadah bubuk kopi, maka setelah airnya dituang, kami lalu menaburinya.
Setelah ditaburi, rasanya dan baunya akan lebih enteng. Bubuk kopi yang kami gunakan tak banyak, ala kadarnya saja. Hanya untuk menetralkan rasa dan bau
air sumur itu.
Kebiasaan saat SMA itu terbawa hingga kini, saya masih sering membuat
kopi lahi. Namun, karena rasanya cukup unik, dikatakan pahit juga tidak, dikatakan tidak pahit padahal ada pahit-pahitnya sedikit, maka tak semua orang akan menyukainya
Dan itu benar, pernah suatu hari, saat ada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata atau KKN di Desa Kindang dan berkunjung ke Tandabaca (TB) saya menyuguhinya
kopi lahi. Ia meminumnya dengan antusias. Awalnya ia mengira itu adalah teh. Tapi setelah meminumnya, katanya hambar dan tak enak. Ia tak menelan semua kopi lahi yang diminumnya. Ia memuntahkannya seketika.
Begitulah sesuatu, tak semua yang kita sukai akan disukai pula oleh orang lain. Karenanya, rasanya tak elok jika standar kita harus diterapkan pula pada setiap orang.
[irp]
Setiap orang memiliki tenggorokannya sendiri. Dan setiap tenggorokan akan berbeda dalam menerima apa yang disusupkan ke dalam mulut hingga sampai kepadanya.
Namun, bagi Ayah dan Ibu saya,
kopi lahi menjadi kopi favoritnya ketika sedang capek, baru pulang dari kebun. Bahkan seduhan kopi jenis ini selalu tersedia saat mereka bermalam di kebun. Pada rumah-rumah kecil yang hanya sepetak.
Setiap jeda kerja, mereka akan menyeruput
kopi lahi itu dengan nikmat. Seolah seduhan sederhananya memberinya kekuatan untuk kembali bekerja.
Kopi lahi adalah jenis suguhan kopi yang unik, tak banyak menuntut. Ia tak menuntut gula atau susu. Cukup bubuk kopi seadanya saja dan air panas. Sisanya tinggal diminum. Entah itu masih panas, hangat atau dibiarkan dingin saja. Pun demikian dengan cemilan,
kopi lahi seperti tak membutuhkannya.
Jika kamu sulit membayangkan rasanya, berkunjunglah ke
Desa Kindang, dan saya akan menyeduhkannya untukmu.
Ssstttt, tapi jangan memuntahkannya seperti mahasiswa kkn itu….berjanjilah!
[irp]