Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Tak Ada Kopi di Kindang, Hanya Ada Ere Bambang

Klikhijau.com - Baik, saya spill tipis-tipis satu rahasia di kampung saya, Desa Kindang. Ini tentang kopi, tepatnya kopi yang telah diseduh dan siap disesap. Rahasia yang akan membuat Kaldi, sang p...

Oleh Irhyl R Makkatutu 12 May 2026 09:11 6 menit baca
Klikhijau.com - Baik, saya spill tipis-tipis satu rahasia di kampung saya, Desa Kindang. Ini tentang kopi, tepatnya kopi yang telah diseduh dan siap disesap. Rahasia yang akan membuat Kaldi, sang penemu biji kopi dari tanah Arab (ada pula pendapat dari  tanah Kaffa, Ethiopia) itu akan garuk kepala. Namun, dari mana pun asalnya Bung Kaldi, ia telah berjasa besar menemukan minuman paling populer di dunia. Atau sangat mungkin bukan hanya si Kaldi yang berprofesi sebagai penggembala kambing itu akan garuk kepala, tetapi juga kamu. Jika kamu ke warkop atau kafe, lidahmu tentu akan terlatih memesan kopi dengan menyebut namanya, entah kopi susu, kopi hitam atau kopi yang namanya lebih asing dan mantanmu, black coffee misalnya. Apa pun jenis minum kopi yang dipesan, kamu akan menyebut nama kopi pada minuman pesananmu itu. [irp] Namun, jika kamu ke kampung saya, jangan pernah mencari air kopi. Tak ada kopi di Kindang. Tak ada, yang ada hanya ada ere bambang. Namun, jangan pula kaget jika yang datang ke hadapanmu adalah air hitam pekat. Itu adalah air panas bercampur kopi yang siap disesap. Di Desa Kindang, sejak dulu, ada satu hal tak pupus hingga kini. Setiap ada yang bertamu ke rumah warga. Suguhan "wajibnya" adalah kopi. Kamu bisa buktikan. Jangan berharap banyak akan disuguhi teh, susu apalagi milo. Suguhan wajib bagi tamu adalah kopi. Tak peduli itu tamu dari jauh atau tetangga yang sedang datang manaikang. Manaikang adalah berkunjung ke rumah tetangga yang lain. Ini adalah upaya sederhana masyarakat desa menjaga silaturahmi dan mengetahui kabar tetangganya. Jika ada rumah yang didatangi tanpa menyuguhkan ere bambang (kopi panas), itu bisa menjadi salah satu indikator penting untuk menilai, orang tersebut termasuk pelit atau sedang dalam masa pailit. Tak ada bubuk kopinya. Menyuguhkan ere bambang kepada tamu bukan sekadar upaya menghormati tamu, tapi juga adalah sebuah harga diri.  Kaum perempuan yang ada di satu rumah, jika ada tamu. Tanpa dikomando akan membuatkan tamunya ere bambang. Namun, jangan mengira hanya kaum perempuan yang bisa menyuguhkan kopi. Di Desa Kindang, urusan perdapuran bukan hanya milik perempuan. Lelaki juga biasa terlibat di dalamnya, termasuk dalam hal menyeduh ere bambang. [irp] Toh, cara menyeduhnya juga simple sekali. Cukup jerang air, tunggu mendidih, siapkan wadah yang telah dituangi kopi lalu siram dengan air panas. Setelah itu, ambil gelas sesuai jumlah orang yang akan disuguhi ere bambang. Lalu angkat ke hadapan mereka. Umumnya, kopi tak dituang langsung ke dalam gelas. Biasanya, tamulah yang dipersilahkan menuangnya sendiri ke dalam gelasnya. Sesuai takaran yang diinginkan. Cara ini sepertinya dilakukan agar tak mubazir, juga tak menyiksa tamu menandaskan kopinya di luar batas kemampuannya. Pun, jangan banyak berharap kopi akan dicampurkan dengan gula. Di Desa Kindang, dominan masyarakatnya meminum kopi tanpa gula. Konon bukan orang Kindang jika meminum kopi bergula.
Minuman paling purba
  Ere bambang, rasanya menjadi minuman paling purba selain air putih di Kindang. Sejak kopi menyentuh kehidupan masyarakatnya. Meski hingga kini, belum ada data valid, kapan masyarakat Kindang mulai bersentuhan dengan kopi. [irp] Jika ingin menelusuri jejaknya, kapan kopi masuk ke Kindang. Perlu bertualang dulu ke tahun 1696-1699. Murdijati Gardjito dan Dimas Rahadian A.M dalam bukunya “Kopi”, mengungkapkan pada tahun tersebut, VOC membawa kopi ke negara ini (belum bernama Indonesia). Pemerintah Belanda menanamnya di sekitar daerah Jawa—Batavia, Sukabumi, Priangan, dan Bogor. Karena pertumbuhannya menjanjikan, Belanda kemudian memperluasnya ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Cara menanamnya dengan sistem tanam paksa. Memeras keringat dan tenaga masyarakat jajahan. Perluasan penanaman kopi tak berhenti di situ saja. Karena pada tahun 1711, saat pertama kalinya kopi asal Nusantara ini diekspor ke Eropa. Belanda mendapat keuntungan berlipat-lipat. Bagaimana dengan Sulawesi Selatan (Sulsel), jika kita korek laporan Ashabul Kahpi dalam jurnal Lensa Budaya yang terbit 2017. Akan ditemukan fakta,  masyarakat Sulsel telah mengenal tanaman kopi sejak abad ke-17. Mereka mengenalnya dari pedagang Arab yang melakukan perdagangan dengan kerajaan Gowa. [irp] Dalam periode ini masyarakat Sulsel  mulai mengembangkan tanam kopi di gunung Lompobattang dan Toraja. Pengembangannya diperkirakan diprakarsai oleh Raja Gowa dan pedagang Arab. Karena itu, pengembangannya di Toraja berlangsung bersamaan dengan di Gowa (Gunung Lompobattang). Periode setelahnya (berdasarkan arsip Koloniaal Verslag 1860-1896) penanaman kopi dilakukan di dataran-dataran tinggi. Pada tanah-tanah pemerintah yang terpusat di Bergregentschappen dan Sigeri yang berada di Distrik Utara, Bantaeng di Distrik Selatan, Bulukumba, Sinjai di Distrik Timur dan pulau Selayar. Hal menakjubkan, pada abad ke-19 Sulsel pernah tercatat  berperan signifikan dalam produksi dan perdagangan kopi. Kopinya diproduksi di Noorderdistricten Maros, Sigeri dan Bergregentschappen, Pangkajene, Zuiderdistricten Bantaeng, Bakungan, Sesayya, dan Oosterdistricten Bulukumba, Sinjai, dan Selayar. Pada abad ke-19 itu pula Sulsel menjadi salah satu daerah pengekspor kopi terbesar Hindia Belanda di luar pulau Jawa. [irp] Dari penelusuran kecil-kecilan ini, besar kemungkinan kopi masuk ke Kindang pada abad ke 19 dan bertahan hingga saat ini dan bisa kamu nikmati saat berkunjung dalam bentuk ere bambang. Saat berkunjung nanti, kamu bisa menyeruputnya dengan tenang dan santai, tapi jangan lupa berdoa semoga perang yang disebabkan oleh kopi tak lagi terulang. Sebagai penikmat kopi, tentu kamu tak asing dengan perang kopi yang terjadi di Sulsel dari 1889 hingga 1890. Sebuah peperangan yang dilatarbelakangi  persaingan perdagangan komoditas kopi di Sulsel yang melibatkan beberapa kerajaan di Sulsel. Perang tersebut  terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama pada tahun 1887 sampai 1888. Namanya  Perang Kopi I. Sesi kedua terjadi pada 1889 sampai 1890. Namanya Perang Kopi II. [irp]
 Sedikit bergeser
  Jika kamu benar-benar datang saat ini yang telah memasuki era air gelas kemasan plastik. Kamu akan temukan di beberapa rumah, pada meja tamunya telah tersedia air gelas kemasan plastik. Jadinya, jika kamu bertamu hanya sekejap. Peluangmu disuguhi ere bambang akan sangat tipis. Namun, ada pula yang meski telah tersedia air gelas kemasan di atas mejanya, tuan rumahnya akan tetap menyuguhkan kopi. Apalagi jika kamu tak buru-buru pulang. Pemilihan air kemasan karena lebih instan. Namun, meski instan masalah yang dibawa tak instan, sebab kemasannya yang plastik itu, baru akan terurai di usia yang sangat lama, empat ratus tahun lebih. Jadi, saran sederhana saya, jika kamu berkunjung atau bertamu ke salah satu rumah di Desa Kindang. Duduklah dengan manis, nikmati waktumu selama mungkin, maka tuan rumah akan bergerak ke dapur—membuatkanmu ere bambang. Kamu boleh tak menyentuh air gelas kemasan itu (jika ada), itung-itung sebagai bagian kecil dari upaya membebaskan Bumi ini dari kepungan plastik sekali pakai. Tandabaca, Mei 2026 [irp]
Topik terkait
#masyarakat #desa kindang #minuman kopi #budaya #budaya kopi #sejarah kopi