Kisah Ambo Dalle di Sinjai, Meraup Untung Selama Pandemi dengan Berburu Madu Hutan

oleh -175 kali dilihat
Kisah Ambo Dalle di Sinjai, Meraup Untung Selama Pandemi dengan Berburu Madu Hutan
Ambo Dalle bersama Isyang memeras Sarang lebah yang didapatnya - Foto/Ist
Gambar Gravatar

Klikhijau.com – Udara masih terasa sejuk pada pukul  07.30 Wita, Minggu 3 Januari 2021. Cahaya sinar matahari tampak buram, tak seperti biasanya cerah.

Seorang lelaki bernama Ambo Dalle (39) tampak mengenakan ransel warna merah dengan mengendarai sepeda motor tua bebek.

Ia membonceng seorang rekannya, Isyang. Tanpa obrolan dan basa-basi, keduanya bergegas dari rumahnya di Honto, Desa Gareccing menuju Kampung Boja, Desa Puncak Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai.

Ransel besar di punggungnya berisi beberapa botol air mineral dan peralatan tali seberat 2 kilogram.

Perjalanan akan memakan waktu sekira 30 menit, dari Gerreccing ke kampung Boja.

Semakin dekat ke kampung Boja, udara terasa semakin dingin dan sejuk. Dari empat penjuru, desis kicauan burung menggoda di telinga, merdu bercampur suara kumbang.

KLIK INI:  Dikukuhkan sebagai Guru Besar di UB, Menteri LHK Bahas FOLU Net Sink 2030!

Setiba di sekitar lokasi, bebek tua milik Ambo Dalle di parkirnya di jalan setapak, lalu keduanya berjalan kaki menelusur ke hutan Boja. Melewati semak-semak dan pohon-pohon menjulang tinggi antara 10 meter hingga 25 meter.

Aksi Ambo Dalle dimulai

Lalu, mereka tiba pada sebuah pohon beringin yang tinggi menjulang dengan diameter batang mencapai 1,5 meter. Di ujung ranting beringin itulah terdapat apa yang sedang dicarinya, sarang lebah.

Ambo Dalle tak langsung memanjat pohon beringin itu. Mula-mula ia menatap sarang lebah itu sembari mengamati seberapa rumit memanjat ke atasnya.

Setelah mengamati pohon itu, Ambo Dalle mulai mengikat obor yang terbuat dari daun pelepah kelapa kering. Obor itu digunakan mengasapi lebah agar meninggalkan sarangnya saat akan diambil madunya.

Setelah obor selesai diikat, selanjutnya ia mencari jalan untuk dapat manjat pohon itu.

Setelah memastikan semua peralatannya aman, termasuk seutas tali yang sudah diikat di pinggang sebagai pengaman, ia pun tak langsung memanjat. Tetapi ia terlebih dahulu jongkok sambil merokok satu hingga dua batang habis.

KLIK INI:  Ingin Mudik Lebaran dengan Jalur Laut, Ini Syarat yang Perlu Diketahui

Saat itu, Ambo Dalle tak banyak bercakap, ia tak merokok biasa, tetapi sedang melakukan ritual agar induk lebah tak menggitnya jika ia mengambil sarangnya.

Saat ritualnya benar-benar lunas, Ambo Dalle mulai merangkak naik ke atas pohon tentu dengan kewaspadaan tinggi, demi mendekati sasaran, sarang lebah.

Lalu, dari jarak dekat, ia menyalakan obor agar lebah-lebah menyingkir dan menjauh dari sarangnya.

Jika api obor sudah menyala, spontang, gemuruh suara lebah sedang berhamburan terbang.

Lebah-lebah itu mengamuk, seperti kerajaan yang istananya diserang musuh. Untungnya, seluruh wajah dan tangan Ambo Dalle telah dibungkusnya rapat, jadi tak ada seekor lebah pun menggigitnya.

Ambo Dalle harus bergerak cepat, sebab berlama-lama bisa malapetaka. Ia harus mengiris sarang lebah lalu dengan cekatan diulurnya ke tanah menggunakan ember yang diikat tali.

KLIK INI:  Berkah Kearifan Lokal, Masyarakat Adat Sungai Utik Tangguh Menghadapi Pandemi

Ia amat berhati-hati, jika tangan Ambo Dalle lepas, maut bisa menjemputnya di ketinggian 20-25 meter. Sebab hanya menggunakan tali yang diikiat di pinggangnya.

Dibantu Isyang, sarang lebah berhasil diambilnya telaten lalu digiring ke tanah.

Dengan gerakan lincah, Isyang menyelesaikan tugasnya dengan melepas semua tali pengikat lalu membawa sarang lebah dalam ember dan mencari tempat yang lebih aman dari amukan lebah betina. Untuk selanjutnya, ia akan memeras sarang itu, mengambil madunya.

Bagian ini juga perlu kehati-hatian tingkat dewa, madu yang diperas tak boleh bercampur dengan benda lain termasuk tetesan air hujan.

Itulah kenapa, lebah biasanya dipanen di musim kemarau, kata Ambo Dalle berbagi kisah. Alasannya sederhana, selain lebih mudah mengambilnya karena pepohonan tidak licin, madu pun akan terjaga dari tetesan hujan.

KLIK INI:  Tak Hanya Ubah Gaya Hidup, Pandemi Juga Ubah Komposisi Sampah
Buah dari perjuangan Ambo Dalle

Bagi seorang Ambo Dalle, memanjat dan memanen sarang lebah bukan perkarah mudah. Sebab butuh perjuangan yang butuh kesabaran dan keberanian.

Apatahlagi, Ambo Dalle pantang membunuh lebah betina. Ia pun punya cara khusus agar betina tak terbunuh saat mengasapi sarangnya, yakni dengan memindahkan ke ranting pohon lain.

“Tidak boleh dibunuh, karena tidak ada yang bersarang lagi kalau dibunuh, hanya butuh teknik saja agar tak menggigit,” ucap Ambo Dalle.

Pesan lainnya, ia mengajak masyarakat di Sinjai agar menjaga pohon-pohon besar dan potensial lebah bersarang.

“Jangan terlalu banyak ditebang lalu tak ditanami pohon kembali, lebah bisa pindah ke daerah lain jika sudah tak ada pohon lebat tinggi lagi,” kata Ambo Dalle.

madu hutan pandemi
Madu hutan Ambo Dalle di Sinjai

Kini Ambo Dalle menjadi pengusaha madu di kampunya dan dinamai madu Gareccing. Ia dibantu para tetangganya memasarkan madu melalui media sosial.

Selama pandemi, Ambo Dalle memperoleh untung hingga jutaan rupiah dari jual madu. Ia bersyukur sebab madu jualannya selalu laris manis diserbu pembeli.

Pelanggangnya dari berbagai penjuru. Tak hanya dari Sinjai, tetapi juga dari Kabupaten tetangga bahkan ada dari Kota Makassar. Berkat kerja keras dan perjuangannya, memanen madu hutan, Ambo Dalle menghidupi anak-anak dan istrinya. Usaha berburu sarang lebah ini sudah didalami Ambo Dalle sekitar empat tahun lalu, namun di pandemi ini bisnis madu makin laris.

KLIK INI:  2 Warga Jepang Ikut Aksi Bersih di Kelurahan Matekko, Bulukumba