Kebun Jagung di Biringbulu dan Sepasang Sejoli yang Menanam Pohon Selama 20 Tahun di Brasil

Klikhijau.com – Akhir Maret lalu, seorang teman mengirimi saya foto. Dalam foto itu terterah jadwal saya bertemu dengan siswanya, di Kelurahan Lauwa, Kec. Biringbulu, Gowa. Teman saya itu memang be...

Kebun Jagung di Biringbulu dan Sepasang Sejoli yang Menanam Pohon Selama 20 Tahun di Brasil
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sebastião, bekerja sebagai seorang fotografer, Salgado baru saja mengabadikan pengalaman mengerikan dari genosida Rwanda. Setelah tugasnya selesai, ia berharap dapat menemukan kenyamanan di kampung halamannya yang dipenuhi hutan hijau.

Namun sayangnya, saat kembali ke Minas Gerais, Brasil, Salgado justru menemukan bahwa hutan milik orangtuanya telah mengering dan mati akibat deforestasi dan eksploitasi yang tidak terkontrol.

Salgado dan istrinya, Leila Deluiz Wanick pun mengakuisisi lahan dan memutuskan melakukan sesuatu untuknya. Selama 20 tahun, mereka menanam kembali pohon-pohon di hutan tersebut.

“Hutan tersebut sangat sakit. Semuanya sudah rusak saat itu. Hanya sekitar 0,5% lahan yang ditutupi pohon,” ungkap Salgado kepada The Guardian.

Pada 1998, pasangan ini mendirikan Instituto Terra dengan tujuan merestorasi 17 ribu akre lahan agar kembali ke keadaan alaminya. Selanjutnya, organisasi yang mereka kembangkan merekrut partner dan relawan. Sebagai permulaan, Instituto Terra menanam empat juta pohon muda saat itu.

Dengan merawat kembali tanaman-tanaman muda tersebut, Salgado dan timnya berhasil memulihkan hutan dalam kurun waktu 20 tahun.

“Istri saya memiliki ide menakjubkan untuk melestarikan kembali hutan ini. Kami memulainya pelan-pelan, kemudian serangga, burung, dan ikan mulai datang kembali. Ia seperti terlahir kembali,” paparnya.

Meski begitu, perjuangan mereka tidak mudah. Tanahnya sangat kering dan selama setahun tidak ada hujan yang turun. Salgado dan Wanick pun harus mengembalikan nitrogen ke tanah dan menanam kacang-kacangan sebelum mereka bisa memeram bibit.

“Beberapa kali kami membuat lubangnya terlalu sempit. Selama berminggu-minggu, saya sakit. Juga sedih melihat bencana yang terjadi pada lingkungan,” kata Salgado.

Untungnya, suami istri ini tidak pernah menyerah dan keadaan mereka semakin membaik dari tahun ke tahun.

Saat ini, kondisi hutan sudah pulih–bahkan menjadi rumah bagi beberapa satwa liar asli seperti ular dan burung.

Salgado dan istrinya kini juga melatih ahli ekologi muda yang membantu mereka menanam dan memelihara jutaan bibit.

***

Perjalanan saya ke Lauwa pada awal April bulan lalu, bukan hanya perjalanan memenuhi janji, tetapi perjalanan menemukan satu fakta bahwa kita berusaha melakukan banyak hal untuk bertahan, namun tanpa disadari kita justru menciptakan ancaman yang dahsyat bagi kehidupan itu sendiri.

Salah satunya  dengan merusak alam untuk ditanami tanaman bahkan beton yang bernilai ekonomi tinggi, tujuannya karena kita berharap bisa hidup lebih lama dan aman,  tapi sebenarnya itu keliru menurut saya, menurutmu?

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2